Santet, Musik dan Narasi Kultural

Santet, Musik dan Narasi Kultural


Santet, diksi dan kata sederhana yang sudah akrab bagi telinga masyarakat Indonesia. Santet secara sederhana merupakan sebuah usaha untuk mempengaruhi psikologis dan fisik atau memasukkan benda-benda tertentu pada tubuh seseorang. Santet subur bertebaran di Nusantara. Bahkan keberadaannya sudah kekal sebelum negeri ini merdeka. Santet tak semata sebuah aktivitas magis, namun darinya banyak menarasikan simbol-simbol kultural. … Baca lebih lanjut

Keris, Agemane Wong Jawa

Keris, Agemane Wong Jawa


Panyebutan ‘keris’ katulis ing prasasti Karangtengah taun 824 M minangka daftar peralatan. Ing candi Borobudur ana siji panel nggambarke wong nyekel gaman kaya keris (Lumintu, 1985: 3). Ing candi Sukuh (abad 15 M) cetha nggambarke sijining empu kang lagi nggawe keris. Relief iki nggambarke Bima minangka pengejawantahane empu kang lagi numbuk wesi, Ganesha ing tengah lan Arjuna lagi mompa luweng tumbukan wesi. Baca lebih lanjut

Rebab 1 (Ajar Wanuh)

Rebab 1 (Ajar Wanuh)


Banyak sekali masyarakat kita yang tidak mengenal instrumen yang satu ini. Pengalaman penulis waktu pertama kali singgah dan mengontrak di sebuah desa, dan memainkan instrumen tersebut dikala waktu senggang, masyarakat setempatpun menanyakan instrumen tersebut.

SENTHONG BUKAN SEKEDAR KAMAR

SENTHONG BUKAN SEKEDAR KAMAR


Senthong merupakan salah satu kosakata jawa yang digunakan untuk menyebut kamar tidur. Kata senthong ini sudah tidak lazim lagi kita temui di masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah. Kata “kamar” lebih akrab mereka gunakan sebagai ganti kata “senthong” itu sendiri. Lalu apa yang membedakan senthong dengan kamar (bilik)? Jelas ada isensi yang berbeda. Kalau di jawa … Baca lebih lanjut

SERTIFIKASI SENIMAN

SERTIFIKASI SENIMAN


“Kalau dipikir-pikir, judulnya demi seniman. Jikalau kalangan seniman sendiri tegas menolak gagasan itu namun pemerintah tetap memaksakan kehendaknya, kan justru menjadi aneh ya, Pret,” ucap Lik Karyo. Baca lebih lanjut

Romantika Peka Jaman

Romantika Peka Jaman


Wayang kian lama kian ditinggalkan oleh penggemarnya. Kenapa? Banyak sekali alasannya. Kalau saya bayangkan seperti halnya dulu kita menggunakan IE (Internet Explorer) untuk menjelajahi dunia maya, sekarang kita bisa menggunakan google chrome, atau Mozilla, opera mini dan masih banyak lagi aplikasi yang bisa digunakan untuk menjelajah dunia maya. Baca lebih lanjut

Mangayubagya Hari Tari Dunia


Ing dina Kemis tanggal 29 April 2010 iki para seniman (tari kususe) mangayubagya Hari Tari Dunia kang kaping 28, sakwise dicanangke dening PBB ing taun 1982. Prayaan iki dianakke kanggo ngelingi tokoh tari modern Jean-Georges Noverre kang lair ing taun 1727. Ing pahargyan taun iki PBB nduweni pesen “REACHING FOR EQUALITY, COMPASSION AND TOLERANCE” (Ngranggeh Kesetaraan, Kebersamaan dan Toleransi). Baca lebih lanjut

“Menghancurkan” Wayang Wong Sriwedari


Tahun ini wayang wong Sriwedari (WWS) telah mencapai usia lebih dari satu abad. WWS adalah sebuah kelembagaan kesenian komersial yang didirikan tahun 1910 untuk melengkapi fasilitas hiburan yang ada di kebon raja Sriwedari atas perintah Paku Buwono X. Pada saat yang sama terjadi perubahan struktur sosial masyarakat dengan lahirnya golongan masyarakat menengah (pengusaha, pedagang dan pekerja). Baca lebih lanjut

Merunut Akar Kekerasan


Secara epistemologis, akar kekerasan bersumber dari dalam yang bersifat instingtif dan dari luar diri manusia yang bersifat stimulus (rangsangan) terhadap lahirnya tindak kekerasan. Dalam pengertian sempit, kekerasan mengandung makna sebagai serangan atas penyalahgunaan fisik terhadap seseorang atau binatang, atau serangan, penghancuran, perusakan yang sangat keras, kasar, kejam dan ganas atas milik seseorang (Windu, 1992: 63). Baca lebih lanjut

Mengenal Demokrasi


Nabi Sulaiman berkata, “Tidak ada yang baru di bawah sinar matahari.” Iya bener juga, hidup adalah sama, cita-cita adalah sama, hukum alam sama di setiap masanya. Perlu diketahui bahwa ada 2 aspek kehidupan yang saling terkait, yaitu semangat ketergantungan dan kebebasan. Baca lebih lanjut

Keroncong dalam Kemandulan


Keroncong adalah salah satunya. Ia masih menjadi bunyi namun dari suara yang kalah oleh benturan sebuah peradaban musik mutakhir. Zaman keemasannya seolah telah berlalu, meninggalkan sejuta kenangan manis dengan lahirnya lagu-lagu monumental yang abadi hingga kini. Baca lebih lanjut

Konsep Satria Piningit


Pandhita juga orang yang mumpuni dalam hubungan horisontal dan vertikal. Dalam segala kebijakan dibutuhkan nurani, bukan karena kekuasaan ataupun uang. Aku jadi teringat film tentang hukum dari Amerika, dimana ada seorang pengacara yang bisa menyelamatkan orang kulit hitam Afrika yang telah menembak mati orang Amerika. Baca lebih lanjut

Kesenjangan Teks Musikal dan Alur Melodi Musik


Madura, Soto Betawi. Semua adalah sama-sama soto namun kenapa harus diikuti dengan nama wilayah-wilayah tersebut. Jawabannya cukup simpel, Jika Merriam (1964) menekannya studi musik dalam konteks budaya maka bisa pula kita tekankan studi soto dalam konteks budaya. Artinya, dalam balutan vokal maupun soto tersebut tertuang tentang konsep-konsep bumbu maupun piranti budaya masyarakat pengkultusnya. Baca lebih lanjut

Semar Kamu Dimana?


Semar kamu dimana ini saya sajikan dalam durasi waktu sekitar 25 menit, dengan menggunakan medium musik 2 buah kacapi sunda dan wayang punakawan. di dalam ceritanya para anak-anak semar mencari ayahnya, dan selalu mengingat ajran-ajaran kemanusian yang disampaikan oleh ayahnya, yaitu SEMAR. Akhir perjuntukan Garengpun berorasi dan mempertanyakan kepada audien, “SIAPA YANG BERANI JADI SEMAR?” Baca lebih lanjut

Semar Kembar 4


Amarta, tentang hilangnya kyai semar yang tanpa kabar-kabar, sehingga situasi negara menjadi amburadul. Tidak selang berapa waktu datanglah Durna, yang minta kejelasan keberadan semar. Durna justru member informasi bahwa di astina ada 2 semar yang tertangkap. Akhirnya mereka datang bersama-sama untuk memastikan mana semar yang benar. Baca lebih lanjut

BAGAI SRIKANDI


Lazim kita jumpai, ibu dan pahlawan-pahlawan wanita masa kini dianalogikan “bagai Srikandi”. Tentu pelukisan semacam ini bukannya tanpa maksud, namun sarat akan bingkai penaknaan kultural atau bahkan mungkin yang transenden. Srikandi, sosok wanita dalam epos wayang Mahabarata yang tradisional itu kini abadi dalam percaturan icon mutakhir. Seperti apa Srikandi, dan kenapa harus Srikandi? Baca lebih lanjut