Politik Tubuh Dalam Tari

Aris SetiawanTubuh bukan sebatas daging, kulit dantulang. Terangkai dari bagian-bagian terkecilnya hingga menjadi sebuahkeajaiban medis. Lebih dari itu, bagi Anthony Synnott lewat bukunya Tubuh Sosial (2002), mengurai tubuhsebagai “sebuah diri”. Berbagai kontroversi, kontradiksi, perdebatan menarikdiberlangsungkan di wilayah tubuh. Mengenai ikatan, makna, nilai, kriteriahidup mati, dihias, dan tentu saja bagaimana ia harus diperlakukan dandicintai. Semua hal unik tentang tubuh tersebut dikemas dan terdeskripsi lewat“gerak”. Dengan gerak kita mampu memahami berbagai simbol yang tertuang dalamtubuh.

Lewat gerak pula manusia terkotak-kotakkanmenurut hukum formalitas kebudayaan di mana manusia itu hidup. Lalu, muncullahberbagai ekspresi kumpulan dan susunan gerak tubuh yang kemudian disebutsebagai “tari (dance)”. Mampu memberirasa, warna, dan karakter detak kultural. Gaya Minang, Solo, Banyuwangi, Yogya,Bali, Papua, Makassar, Dayak Kalimantan dan lain sebagainya adalah kumpulangerak yang terbakukan dengan berbagai ikatan dan simbol kebudayaan, ternarasidalam tari tradisi. Namun apakah semua hanya berbicara tentang gerak tubuhsemata? Apakah segala eksplorasi tentang gerak, senantiasa dan melulu, hanyasebatas perayaan tubuh?

Politik Tubuh

Berbicara gerak tubuh sebagai sebuah tariberarti tak cukup dengan hanya meletakkan dikotomi dalam dualisme bergerak dandiam. Namun terangkai dalam berbagai ikatan yang menyertainya. Tubuh adalah‘kamar imajiner’ tempat bergumul dan terciptanya berbagai elemen artistik.Dengan demikian berbicara tubuh tari berarti tak melulu berbicara gerak, namunjuga ekspresi musikal, bahkan juga mimik, teatrikal, kostum, tata panggung,imajinasi dan tentu saja kreativitas. Semua elemen tersebut menjadi satukesatuan yang sah untuk digelar, menghantarkan pencapaian sebuah rasa artistiktentang gerak tubuh yang puncak.

Selebrasi tentang gerak dan ekspresiartistik yang menyertainya mencoba dirayakan sebagai “Hari Tari Dunia” (HTD)setiap tanggal 29 April. Solo, kurang lebih tujuh tahun ini rutinmenyelenggarakan perayaan itu. Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta bekerjasamadengan pemerintah kota berpesta lewat tari. Tak kurang seribu penari lebih memadatkanjalan-jalan kota Solo kala peristiwa itu berlangsung. Ada beberapa catatanpenting terkait perstiwa ini. HTD tak semata ritus berpesta, namun ruangkontemplasi diri untuk mencoba melihat posisi kembali tubuh kita dalam tumpukankisah laku hidup.

Politik tubuh telah berlangsung yang takmelulu dalam dunia tari. Jokowi misalnya, gubernur kenamaan dari Jakarta itusedang melakukan politik Tubuh. Jokowi mampu menjungkir balikkan kuasa tubuhideal dalam percaturan kisah politik tanah air. Tubuh Jokowi adalah dekonstrusiterhadap kemapanan. Ia adalah manusia yang kurus kering, tak berdaging,cungkring, yang tinggal seolah hanya tulang dan kulit. Jokowi bukanlah ekspresitubuh ideal seperti Susilo Bambang Yudhoyono yang gagah perkasa dengan geraklayaknya pahlawan itu. Ia merontokkan argumentasi awam, bahwa pemimpin danpahlawan ideal bertubuh ideal.

Jokowi dengan tubuh rapuhnya ituberhasil menjadi pikat bagi masyarakat Indonesia mutakhir. Menghasilkan iba dansemaian doa. Gerakan yang klemarklemer kemudian dipautkan dengankarakter orang Solo yang konon halus dan kalem. Perlakuan terhadap tubuhkemudian tak semata hanya dalam upaya pencitraan semata namun ciri budaya.Tubuh sebagai ruang ditempatkan pada pembakuan tradisi. Gerak-gerak tertentudieksploitasi sebagai penanda tubuh kultural. Identitas manusia ditentukanlewat pola dan ekspresi geraknya. Karenanya, perayaan hari tari menjadi begitu istimewakarena kebebasan terhadap gerak mendapatkan ruang yang seluas-luasnya. Solomenjadi tuan rumah. Gaung pembebasan tubuh tak semata menempatkan Solo sebagaiyang berpesta. Namun banyak peserta yang datang dari pulau dan negara lain,demi kebersamaan membebaskan gerak tubuh.

Namun demikian di acara itu kita mampumelihat ekspresi keragaman gerak di nusantara. Semua terbalut atas namatradisi. Tari-tari tradisi dipertontontan, menambah semarak dan referensi kitaterhadap varian gerak. Ada yang gerak halus ala Jokowi, gagah seperti SBYbahkan penuh kejutan layaknya Superhero. Sementara di sisi lain, ekspresi gerakyang paling kontemporerpun tak bisa ditinggalkan. HTD, menjadi wadah eksperimentatifbagi seniman untuk menemukan jejak gerak baru yang terbalut estetika, sehinggamenjadi tontonan yang lebih menyegarkan. Di perayaan itu kemudian juga menjadimedan interaksi, saling bertukar pikiran dan lebih penting lagi menambahjejaring kerja berkesenimanan.

Kontinu

Dengan adanya perayaan HTD yang ke tujuhkalinya, seolah mampu membuktikan jati dirinya sebagai wadah penting dalamusaha menunjukkan detak kencang nadi kehidupan seni tari nusantara. Di sinilahmedan transaksi berlangsung, muara bertemunya beragam profesi yang salingberinteraksi seperti seniman, birokrat, pengusaha, masyarakat umum bahkanmahasiswa. Membawa satu kesepahaman yang akan terumuskan lewat seminar atausarasehan yang digelar sebelum dan sesudah acarara berlangsung. Dalam forum itusetidaknya persoalan-persoalan atau isu penting terkait dengan masalah seni diIndonesia dapat diangkat kepermukaan. Tidak hanya sebatas meramaikan, sarasehanyang ada diharapkan mampu berperan sebagai katalisator dalam melahirkangagasan-gagasan atau solusi ideal dalam memecahkan masalah yang selama inidihadapi ruang hidup seni tradisi khususnya tari di Indonesia.

Sadar atau tidak, perayaan HTD lahirdari sebuah kebutuhan kultural. Merupakan kerja yang dibangun dalam takarankolektif. Oleh karena itu, tampil di HTD bukanlah semata-mata tujuan utamanya,karena HTD tidak lebih dari sebuah media yang dikonstruksikan menjadi pusatmedan interaksi, bertemunya seni dengan masyarakat yang terbingkai dalam ruangpluralisme. Ketika proses itu sendiri dimaknai bagian dari tujuan, makakesediaan melakukan eksplorasi ide-ide baru dan segar adalah cara kerja harusdimunculkan dalam laboratorium kekaryaannya.

Dayatahan dan komitmen adalah bekal dasar dalam proses tersebut. Bukan  merupakan suatu hal yang aneh jika gerbong HTD selalu akan tampil dengan wajah baru menggantikan wajah lama yang telah undurdiri. Wajah yang akan banyak dihiasi karya-karya baru yang lebih menumental.Tidak berlebihan kiranya jika harapan besar disematkan pada HTD taun ini agar tidaksemata menjadi pesta yang hanya menghamburkan uang, namun juga mampu membawadampak yang lebih baik dalam proses berkesenian kita terutama bagi kota Solo.

HTDsejatinya juga menjadi satir atas perlakuan tubuh sosial kita. Yang termanjakanlewat berbagai pelayanan instan. Tubuh tak lagi harus bergerak, karena telahterlayani dengan berbagai kuasa teknologi. Tak lagi perlu membeli makanan kewarung, cukup dengan hanya telepon, maka makanan lezat langsung datang. Tubuhmengalami penurunan daya kerja hingga menjadi sarang dari berbagai penyakit.Oleh karena itu di HTD, menuntut manusia untuk kembali bergerak, mengembalikankodrat gerak pada tubuh. Bahkan di forum itu, ritus gerak dilangsungkan selama24 jam nonstop. Selamat Hari Tari Dunia, selamat bergerak dan menari.

(Aris Setiawan, Harian Joglosemar 26 April 2013)

Iklan

tolong masukannya yah

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s