ABOUT ME

fotoku ndhe

Pas Pentas

KENALAN DONG…!

Nama saya Jumari, seorang anak kampung yang berusaha hidup di Kota. Salah satu kota yang berslogan Budaya di Indonesia. Anak pertama dari tiga bersaudara yang lahir dari keluarga desa yang kehidupannya hanya tergantung pada alam (kayu, tani, tegal). Adik saya cewek semua dan cantik-cantik semua, tapi maaf mereka sekarang sudah menikah semua dan sudah punya anak. Maklum pemikiran orang kampung, sekolah tidak diprioritaskan, yang penting nikah dan berkeluarga. Sejak kecil saya ikut dengan nenek dan kakek dari ibu saya, baru ketika usia SD saya dipindahkan ke Sragen kota untuk sekolah. Di sana juga tinggal dengan nenek yang sudah berpisah dengan kakek, bersama paman-paman saya yang belum menikah (waktu itu). Kehidupan waktu kecil ini memang sangat berperan sekali pengaruhnya terhadap karakter saya sekarang, sejak kecil saya tidak dimanja, jadi sekarang mintanya dimanja, atau kalau melihat orang manja merasa cemburu. he he he he

MENGENAL WAYANG

Mempelajari seluk beluk tentang wayang dan berusaha mengembangkannya dengan berbekal kemauan. Pertama kali mengenal wayang sejak duduk di bangku sekolah SMP, di sana dikejalkan oleh guru saya tentang peran Walisanga dalam menyebarkan agama dengan menggunakan mediasi wayang. Lulus SMP dilanjutkan ke SMKI (sekarang SMK N8) Surakarta mengambil jurusan Karawitan, selama 3 tahun. Dan baru belajar tentang wayang sejak kelas 3 SMA itupun lewat kursus di PDMN (Pasinaon Dhalang Mangkunegaran). Lulus SMKI melanjutkan kuliah di STSI (sekarang ISI) Surakarta mengambil jurusan Seni Pedalangan. Di STSI saya baru merasakan pendidikan formal, meskipun pada kenyataan waktu saya habiskan untuk belajar musik tradisi dan kontemporer.

BELAJAR KREASI

Baru pada semester 6 saya berusaha membuat format wayang bentuk baru dengan menggunakan iringan (musik) “Calung” (2003), konsep ini lebih menyederhakan bentuk pertunjukan wayang dari segi “bahasa”, karena saat itu memang teman-teman saya yang kuliah di UNS bilang tidak suka wayang dikarenakan kesulitan dalam memahami bahasa yang digunakan. Selain unsur bahasa yang sedikit di ubah, juga mengenai gerakan wayang yang hanya sekedarnya, tidak banyak gerak seperti permainan akrobat wayang yang sedang berkembang sekaranga, selain itu juga unsur musik yang menggunakan “calung” (seperangkat alat musik dari bambu yang merupakan ciri khas dari Banyuwangi). Tujuan menggunakan instrumen calung ini berharap suasana meriah dan merakyat lebih terasa (karena menurut saya iringan gaya surakarta itu terlalu agung, dan saya belum mampu melakukannya).

Bukan berarti saya berasal dari Banyumas, konsep saya dalam penggarapan musik adalah hanya sekedar ilustrasi pendukung, kadang menonjol dan kadang tidak, untuk membuat karakter musik baru dalam khasanah seni wayang. Selain itu saya menganggap “calung” sebagai instrumen bukan sebagai seni musik yang berkarakter mBanyumas, karena saya hanya memahami bahwa seni musik “calung” itu begitu merakyat suasananya, alasan inilah yang mendasari saya menggunakan instrumen calung sebagai pendukung sajian wayang saya, sehingga karena banyak terinspirasi dari calung maka wayangnya saya beri nama “Wayang Calung”, yang kami singkat dengan “WAYLUNG”.

CERITA WAYLUNG

Babon cerita masih mengikuti Mahabharata dan Ramayana, hanya isensi ceritanya berusaha menanggapi berbagai fenomena yang sedang berkembang. Cerita-cerita yang pernah dipentaskan antara lain:

1. Swatama Gugat, bercerita tentang kehidupan Durna dan Swatama sebagai anak dan bapak, Aswatama merasa tidak tega ketika ayahnya yang berjasa kepada Kurawa kemudian di penjara karena kesalahannya telah membuat Bima menjadi Dewa Ruci, dengan demikian dianggap menghancurkan negara Astina secara diam-diam. (2003, di STSI Surakarta, gelar karya Mahasiswa dan Dosen)

2. Kunthi, bercerita tentang seksualitas, bahwasanya hubungan sex suami istri bukan sekedar pelampiasan nafsu, ada tatacara tertentu (menurut syariat agama), cerita ini perkembangan dari Kunthi yang memiliki “Aji Pameling” sehingga bisa mendatangkan Dewa dan melingdungi hubungan intimnya dengan Pandu, tatkala Pandu sudah disotkan akan mati kalau melakukan senggama. (2004, di Blitar)

3. Sembadra Bingung, bercerita tentang percintaan kaum remaja. Cinta adalah keiklasan dalam menerima kenyataan hidup berdampingan dengan suami meskipun harus di madu beberapa kali. (2005, di TBS Surakarta)

4. Durna in The Remote Control. Pentas kolaborasi dengan musik Jazz, teater, tari dan wayang plastik bersama dharmasiswa dari Cheko dan Polandia. Berlatar belakang tentang perjalanan Durna yang haus akan pengetahuan (ilmu) hingga menuai ajalnya. (2007, di UKSW Salatiga)

WAYANG KOCLOK

Setelah berproses dengan format wayang calung akhirnya saya membentuk komunitas baru dengan format baru yang saya beri nama “Wayang KOCLOCK” (2008). Secara mendasar konsep wayang ini masih sama dengan konsep wayang calung, cuma instrumen musik yang digunakan berbeda. Kami berusaha membuat instrumen baru dari bambu yang dibuat dengan sistem pelarasan diatonis. Wayang ini sempat pentas beberapa tempat seperti Wismaseni, Greja Katholik Majasanga, Balaikambang Surakarta, Salatiga dan Sragen. Ceritanya masih menggunakan Mahabharata dan Ramayana, meskipun pada beberapa pentas kita berusaha membuat bentuk wayang baru dengan menggunakan dongeng-dongeng rakyat sebagai sumber cerita, seperti RORO JONGGRANG dan Ande-Ande Lumut. Wayang ini berusaha menggunakan metode interaktif baik dengan para pemusik maupun para penonton.

Wayang Bhineka, karena saya merasa nilai kebhinekaan sekarang seperti makin luntur, saya mencoba membuat wayang bhineka dengan sederhana mungkin (iringan cukup pakai komputer) cerita kehidupan sehari-hari yang mengambil peristiwa yang paling aktual untuk disampaikan kepada audien. Boneka wayang ini bercirikan lukisan karikatur (besar di kepala) untuk penggambaran karakter tokoh. Sedangkan tokoh-tokoh wayangnya berusaha menggambar ulang berbagai suku atau etnik bangsa ini (meskipun saya baru membuat 9 karakter wayang yang telah di lukis oleh teman saya ADI). Perkembangan wayang ini belum seberapa, karena memang saya perlu belajar banyak tentang logat-logat daerah. Pernah pentas di Selo Boyolali, Arisan RT di Minapadi, dan Di Desa Saya.

WAYANG CLIMEN

Wayang Magak (selanjutnya sebut wayang climen, karena hampir sama konsep dengan Wayang Climennya Ki Jlitheng Suparman), setelah mengamati situasi masyarakat kota yang semakin jejel riyel (padat) sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pementasan wayang purwa biasa (yang ukuran kelirnya sangat panjang dan instrumen yang digunakan sangat banyak), selain itu wayang ini melanjutkan konsep bahasa yang gaul dari wayang-wayang yang saya buat sebelumnya. Konsep utama wayang climen ini adalah penyederhanaan pakeliran semalam, baik dalam durasi waktu dan minimalis instrumen. Acuan tetap pada pakeliran semalam yang hanya ceritanya lebih kekinian (aktual) dengan menggunakan sistem bahasa yang lugas. Sudah pentas beberapa tempat seperti (Ngawi, Balai Sudjatmoko dan Purbalingga) dengan tema cerita yang masih sama. Sementara waktu dalam rangka pengenal bentuk format wayang climen saya dan Ki Jlitheng Suparman bersedia untuk pentas tanpa dipungut bayaran, dengan sistem kerjasama dengan penanggap (supaya tidak ada unsur yang dirugikan). Jadi silahkan bapak-bapak, saudara, rekan, teman, kerabat, justru yang paling diutamakan adalah kaum lemah, dari desa pelosok yang merasa ingin wayangan dan tidak memiliki dana, atau terbentur dengan dana, dipersilahkan untuk nanggap wayang climen, sampai sekarang dalang wayang climen ada 3 orang yaitu saya sendiri, Ki Jlitheng Suparman, dan Gendut. Silahkan koment atau kirim ke alamat email saya djudjum12@gmail.com bagi yang berkenan kerjasama.

BERMUSIK AH

Selain bermain dengan wayang, saya juga sering terlibat dalam berbagai bentuk musik baru (kontemporer) baik dalam rangka ujian akhir Mahasiswa Jurusan Karawitan maupun pentas mandiri sebuah kelompok. Hal ini lebih dikarenakan saya sering nabuh (player gamelan) daripada main wayang. Sejak awal kuliah sampai sekarang mungkin sudah banyak karya yang saya buat guna membantu teman-teman untuk melangsungkan ujian akhirnya. Saya sendiri juga memiliki komunitas musik yang kami beri nama RASAMAYA, yang dipimpin oleh teman saya Bambang, dan beranggotakan 7 orang alumnus Mahasiswa Jurusan Karawitan (Saya sendiri yang dari Pedalangan). Kelompok ini sebelumnya diberi nama LOS (sebelum saya gabung), dan mungkin di kalangan seniman-seniman Solo dan Jogja sudah dikenal kiprahnya. Akhir-akhir ini RASAMAYA berusaha menggarap atau mengaransemen ulang lagu dolanan anak-anak (meskipun sebenarnya merupakan perjalanan panjang). Kami menganggap lagu dolanan ini sangat inspiratif sekali dan masih relevan dengan kehidupan sekarang, karena sebenarnya dalam lagu dolanan terkandung pesan-pesan moral maupun filsafat yang sangat tinggi, dan ini kami anggap sangat menarik untuk dikaji ulang dan diaransemen. Karya musik yang telah dibuat baik dalam bentuk karya kontemporer, maupun aransemen ulang sangat banyak, tidak etis kalau saya sebutkan di sini karena saya belum ijin pada pimpinan komunitas RASAMAYA. Pengalaman yang paling berharga adalah membuat musik untuk teater yang disutradarai oleh orang Amerika yang bernama Jonathan Lim dalam karyanya yang mengambil dari novel William Shakespeare yang berjudul “THE TEMPEST” yang di pentaskan di Pendopo Taman Budaya Surakarta (sekarang TBJT) pada tanggal 14 Februari 2007.

Selain bermain gamelan, saya juga bersedia mengajar bagi para pemuda-pemudi yang ingin belajar gamelan baik tradisi maupun kontemporer sifatnya kerjasama, tidak ada pihak yang dirugikan. Maksud saya dalam hal ini adalah mengenalkan gamelan kepada para generasi bangsa. Silahkan hubungi saya, jika memang membutuhkan, saya siap membantu sesuai dengan kapasitas saya ikhlas lair batin demi kemajuan kesenian tradisi. Tinggalkan komen anda sebagai tanda persahabatan kita. Terima Kasih.

12 thoughts on “ABOUT ME

  1. salam kinurmatan,teras lajengaken anggenipun nguri-uri budoyo Jawi,sampun ngantos kasirnaaken dening kabudayan njawi.

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s