KARNA (Semangat belajar dalam Dunia Wayang)

Dalam kisah dunia pewayangan episode Mahabarata, pasti semua ingat dengan nama Karna. Itu anaknya Kunti yang lahir dari telinga dan lalu di buang di sungai gangga dan ditemu oleh seorang kusir kerajaan Astina yang bernama Adirata. Kebetulan keluarganya mandul sehingga dia ambil bayi tersebut dan menganggapnya karunia dari Tuhan. Anak ini diberinama Saratiputra atau Basusena. Sebagai seorang kusir kerajaan, sebenarnya dapat fasilitas yang lumayan, serta gaji yang cukup. Sayangnya Basusena ini suka sekali dengan keprajuritan, sehingga tidak berkenan dididik oleh ayahnya untuk menjadi kusir. Secara tegas dia menolak, dan secara diam-diam Karna ngintip Druna ketika memberi pelajaran kanuragan kepada Pandawa dan Kurawa. Hal ini bisa dilakukan Karna karena dia sering ikut ayahnya ke kota raja.

Karna tidak secara langsung di didik oleh Druna, tetapi segala yang diajarkan Druna bisa dia kuasai. Druna ahli strategi perang dan ahli kanuragan, artinya olah raga, lebih kerennya guru kungfu ala China, karate ala Jepang, di Indonesia atau melayu ya Pencaksilat saja. Pada jaman dulu belum ada pistol dan senapan atau bom atau meriam. Yang canggih saat itu adalah panah. Bagaimana Karna mampu menyerap ajaran Druna walau sebatas mendengar? Siapa bilang hanya dengar? Itu ilmu praktek, tidak hanya teori, tetapi butuh praktek langsung. Meskipun benar awalnya dia hanya mendengar. Tetapi setelah sampai rumah, dia pergi ke kebun dan mempraktekkan segala yang di dengar dan di lihatnya.  Sampai-sampai dia hafal logat dan gaya bicara Resi Druna, bahkan ada yang menggambarkan dalam pertunjukan wayang, Karna membuat patung seperti Druna, yang fungsinya mengawasi Karna saat latihan di rumah.

Wal hasil kemampuan Karnapun seibang dengan Permadi (Arjuna) murid paling dikasihi oleh Resi Druna. Hal ini terbukti saat ujian murid-murid Druna, Pandhawa dan Kurawa diadu, kalau sekarang seperti sabung gitu ya. Ada yang adu jurus, adu main keris, tombak, trisula, gada, komplit deh pokoknya. Dan semua permainan itu dimenangkan oleh Pandawa. Bayangkan, kurawa yang 99 orang (karena kurawa itu ceweknya 1 lho) melawan 5 orang, dalam segala hal pencak dan main sejata tidak ada yang menang. Terakhir adalah lomba melepaskan panah, hanya Arjuna yang mampu melepaskan panah tepat sasaran. Karna tiba-tiba muncul, dan bilang kalau dia juga mampu. Tetapi berhubung dia itu anak kusir, makanya tidak diperkenakan masuk arena. Sayang sekali ya, ini seperti sekarang, pendidikan yang berkualitas selalu di tangan orang yang punya uang, kalau bagi orang desa dan miskin, ga bakalan mampu, baik itu negeri atau swasta. Entah apa sebabnya, selalu ada prioritas. Ada uang ada service.

Ok terusin ceritanya ya, konon Duryudana menarik tangan Karna dan memerdekan Karna diangkatnya jadi sahabat tua dan saudara. Dengan jalan ini maka Karna bisa berkompetisi dengan Arjuna dalam olah adu panah. Di mulai dari tinggi-tinggian panah, jauh-jauhan panah, masih sama dan mirip kemampuan. Dan akhirnya tepat-tepatan panah. Arjuna yang lihat kemampuan Karna jadi grogi, karena usia lebih muda, dan merasa Druna telah mengangkat Karna jadi muridnya. Arjuna melepaskan anak panah dengan konsentrasi penuh, dan memang tepat sekali dengan sasaran. Giliran Karna, semua mata tertuju padanya, Karna sangat antusias sekali, dan memang benar juga, karena dia mampu memecahkan panah Arjuna tepat di bagi 2 belah panah Arjuna yang tepat tadi. Aplouse dulu dong untuk Karna. Hore prok prok prok prok ….

Tidak sampai di situ, Karna yang gandrung dengan ilmu kanuragan, membuat dia berdusta juga pada seorang guru atau Brahmana. Karena menginginkan ilmu yang dimiliki oleh Brahmana tersebut. Ketekunan bisa juga berakibat negatif jika itu dilakukan dengan berlebihan. Bukankah apapun itu jika berlebihan sudah tidak bagus. Itu salah satu hikmah dari cerita Karna ini.

Selain itu adalah semangat belajar. Dulu di TVRI di tayangan film sinetron (aku lupa judulnya) tapi ceritanya atau lakonya kalau ga salah bernama Aji, seorang kutu buku tanpa sekolah. Serupa tapi tak sama, itulah yang terjadi. Serupa metode belajarnya, tak sama ketrampilan yang dimiliki. Iya mereka memiliki semangat yang sama, Karna punya semangat ingin bisa, dan si Aji semangat ingin tahu. Ketika semangat ini ada maka yang dilakukan selalu berhubungan dengan keinginan. Mungkin ini tergolong ambisi ya, atau tidak saya tidak tahu.

Pelajar jaman sekarang saya rasa kurang dalam hal semangat ingin belajar. Keadaan lingkungan rumah, lingkungan pergaulan luar rumah, lingkungan sekolahan berbeda. Coba tengok di sekolahan, apa yang mereka bicarakan seusai pelajaran sekolah? atau saat istirahat? Dari cerita rumah, kesebelan di rumah atau sebaliknya sayangnya di rumah karena punya PS2 atau PS3 atau modem untuk berselancar di dunia net. Atau keasikan lain yang membuat konsentrasi belajar mereka terkalahkan. Artinya bagi mereka lebih menarik. Nonton tv enak, tinggal click, nikmati, lapar ditinggal makan, lucu tertawa, sedih ikut nangis. Baca buku! No mam, itu besok aja kalau mau ujian. Ujian datang, film-film bagus keluar, dan serangan media lainnya juga ikut. Akibatnya, belajar terlupakan. Orangtuapun ikut enjoy menikmati, karena kecapean kerja seharian. Lalu kalau sudah begitu bagaimana?

Sebernarnya yang butuh belajar itu siapa sih? Anak atau orang tua yang merasa ketakutan anaknya bodoh? Karna diberi kebebasan, Aji juga diberi kebebasan. Tetapi anak sekarang di beri kebebasan bagaimana? Penanaman kepercayaan memang sejak dini, kalau sejak dini hanya di cekokin atau hanya dimanja, dituruti, dan di eman ya jangan salahkan anak kalau nantinya juga seenak dia sendiri, bermalas-malasan. Jadi gimana donk? Tiap anak pasti punya keistimewaan sendiri dalam sebuah segmen. Menurut saya mungkin lebih hematnya mengikuti kemauan anak selama itu positif. Supaya ambisi atau keinginan mereka untuk belajar selalu ada. Jangan membatasi, toh dunia anak itu lebih imajiner dibanding kita-kita yang sudah sering makan dogma. Sehingga pandangan anak itu kadang lebih luas, apapun jadi sesuai dengan imajinasi mereka. Kalau tidak mampu mereka baru merengek.

Kalau anak sudah memiliki semangat belajar, saya yakin, dia akan jauh dari berbagai lingkungan yang dia fikir kurang bermanfaat. Dan pasti bergaul dengan teman yang dia anggap senasib atau sama hobi, itu kecenderungan alam kalau menurut saya. Orang tua hanya bertugas mengawasi, supaya si anak jangan sampai kelewatan atau terlalu serius, sehingga ketekunan berubah menjadi ambisi. Sebab kalau jadi ambisi akan mengubah moralitas anak, andai jadi pinterpun akhirnya mengolok teman yang malas dan merasa dia paling rajin dan lain sebagainya. Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semuanya.

Di muat juga di

http://edukasi.kompasiana.com/2011/06/14/karna-semangat-belajar-dalam-dunia-wayang/

Ilustrasi gambar di ambil dari

http://www.ekhwanirfan.blogspot.com/

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s