SERTIFIKASI SENIMAN

Entah terdorong oleh keinginan apa ketika mendadak seorang Wamendikbud melontarkan gagasan sertifikasi untuk para seniman. Dengan dalih demi menopang pengakuan kompetensi seniman Indonesia di mancanegara maka perlu ada sertifikasi. Lontaran gagasan itu selayak petir di siang bolong, mengagetkan dan mengusik ketenangan jagad kesenimanan Indonesia. Respon seniman yang mengemuka pun cenderung negatif.

“Lha wong mau dibantu kok malah pada galau to, Pret?” celetuk Lik Karyo.

“Mau membantu apa mengganggu?” seloroh Kampret.

“Lho, mengganggu bagaimana? Lha wong niatnya agar seniman Indonesia ketika ke mancanegara diakui dan dihargai kompetensinya kok dianggap mengganggu? Apanya yang terganggu?”

“Yang terganggu akal sehatnya, Lik. Pengakuan atas kualitas kesenimanan itu tidak berdasarkan selembar kertas, tetapi berdasarkan hasil karya. Kalau ingin menilai kualitas karya, memang bisa dilakukan. Tapi kalau ingin menilai kualitas kesenimanan seseorang, bagaimana mengukurnya?”

Sertifikasi merupakan penilaian secara formal tentang derajat kompetensi atau kualitas kesenimanan seseorang. Untuk menetapkan seorang seniman layak atau tidak layak mendapatkan sertifikasi tentu harus melalui prosedur pengujian atau penilaian terlebih dahulu. Persoalan akan muncul ketika dihadapkan pada pertanyaan, siapa yang berwenang menguji para seniman? Bagaimana merumuskan parameter untuk mengukur kualitas kesenimanan seseorang?

Persoalan akan semakin rumit ketika dihadapkan pada realitas begitu banyaknya cabang seni di kehidupan ini. Katakanlah di Indonesia yang terdiri dari sekian banyak suku bangsa, berapa banyak khasanah ragam seni yang dimiliki. Dari khasanah seni yang jumlahnya nyaris tak terhitung tersebut kesemuanya memiliki peluang yang sama untuk tampil di panggung mancanegara.

“Saya benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana sistem yang akan dijalankan untuk sertifikasi seniman dari ratusan jenis kesenian itu. Padahal masing-masing memiliki disiplin yang berbeda. Bagaimana merumuskan dasar-dasar penilaian dari setiap ragam kesenian yang memiliki disiplin khas tersebut?” ujar Kampret.

“Kan bisa mengumpulkan ahli-ahli, master-master, pakar-pakar dari semua cabang kesenian itu untuk menjadi tim penilai, Pret,” cetus Lik Karyo.

Pikiran Lik Karyo selintas seperti masuk akal. Akan tetapi kita akan menghadapi pertanyaan yang sama, siapa yang berwenang menetapkan seseorang untuk menempati posisi sebagai ahli, master atau pakar yang akan menjalani kewenangan menilai kualitas kesenimanan seseorang? Bagaimana parameter untuk mengukur kompetensi seseorang agar duduk sebagai pakar yang berhak menilai kualitas kesenimanan orang lain?

“Kok ruwet ya, Pret?” gumam Lik Karyo.

“Ya jelas ruwet wong dasar asumsinya sudah cacat lebih dulu,” tegas Kampret.

Seniman adalah sosok yang lahir dari rahim kehidupan. Sebuah keahlian yang benar-benar bertumpu kepada bakat dan tempaan pengalaman. Kemampuan yang tidak bisa dibentuk sebagaimana profesi atau keahlian yang secara keilmuan bisa dilembagakan, seperti: teknik, kedokteran, hukum, pendidikan, ekonomi dan sebagainya.

“Maka sampai detik ini memang tidak ada yang namanya sekolah seniman, Lik,” tegas Kampret.

“Lha terus lembaga-lembaga pendidikan seni itu artinya apa?” tanya Lik Karyo.

“Lembaga-lembaga pendidikan seni itu adalah tempat belajar tentang kesenian. Maka di pendidikan tinggi seni pun ketika mahasiswa lulus ijasahnya tidak berbunyi seniman, melainkan sarjana seni. Yang berhak memberi label seniman tiada lain masyarakat. Label seniman akan didapat ketika seseorang mampu menunjukkan eksistensi berkeseniannya di masyarakat.”

“Lha terus sebaiknya gimana, Pret?”

“Sebaiknya gagasan sertifikasi itu tidak perlu dilanjutkan. Karena jelas bahwa sertifikasi tidak berkorelasi dengan kesenimanan. Jika dipaksakan justru akan menimbulkan banyak masalah. Disamping itu juga hanya akan menambah beban anggaran negara. Sebab dengan membentuk lembaga sertifikasi tentu akan menyerap dana yang tidak sedikit. Dari pada uang dihamburkan sia-sia, mending untuk disalurkan kepada masyarakat miskin yang jelas-jelas lebih membutuhkan.”

“Kalau dipikir-pikir, judulnya demi seniman. Jikalau kalangan seniman sendiri tegas menolak gagasan itu namun pemerintah tetap memaksakan kehendaknya, kan justru menjadi aneh ya, Pret,” ucap Lik Karyo.

“Orang pun boleh bertanya, ada apa dibalik itu?” kata Kampret menutup perbincangan karena harus melayani parkir.

Jlitheng Suparman

Dalang Wayang Kampung Sebelah dan Wayang Climen

Tulisan ini telah dimuat di sub rubrik Lincak harian Solopos, Minggu 13 Mei 2012

8 thoughts on “SERTIFIKASI SENIMAN

  1. Ki Dalang…ha mbok sy nanya…karang wong bodo isne ya mung takon…hehee…misalnya ada salah satu kasus lain tp secara harafiah bisa dietrapkan pada topik tulisan KI Dalang…misalnya ada orang yg belum tahu benar tentang mekanik motor…tp dia itu buka bengkel motor..lha rak yo ra karu-karuan to…hehee….terus piye Ki Dalang..lha kalau ada sertifikasi berarti kan kita sebenarnya diperhatikan to oleh pemerintah…orang2 profisional kayak panjenengan…sudah pastilah tersertifikasi…hal itu kan jelas bisa dilihat dr sepak terjang kekaryaannya…yg terpenting kan bangunan sistemnya harus benar2 bagus dan sehat…tapi yo embuh ding…aku dewe yo ora mudeng kog….tp yg sy amati di negara2 maju..pola itu sudah berjalan dan dengan adanya hal itu…kehidupan seniman juga lebih baik dan terhormat…ketoke lho Ki Dalang…hehee…salam Budaya…Maturnuwun….

    • persoalannya tidak semudah yang ditangkap denga panca indera ataupun alat pikir sekalipun. kesenimanan di negara inipun secara keprofesian masihh dipertanyakan sejauh mana mereka menekuni dunianya. sistema yang digunakan dinegara ini tentunya harus diubah dulu kalau memang sertifikasi seniman itu dibutuhkan, jadi juga tidak asal mengangkat, malu dengan simbah2 jaman dahulu.

  2. Pejabate kaya wong dodolan. Arep adol banyu, lenga, beras , pasir, tembako, semen, kewan raja kaya, kabeh arep dibungkus lan ditimbang nganggo literan. Jebule wutah,malah ora karu-karuwan…. Nuwun sewu nggih Ki.

  3. SERTIFIKASI SENIMAN….?

    Eksistensi seorang seniman bukan didasarkan kepada selembar surat keterangan atau sertifikat, tetapi berdasar seberapa dalam dan luas pemahaman sang seniman atas sesuatu bentuk seni yang digelutinya. Eksistensi seorang seniman lebih didasarkan atas apresiasi dan pengakuan masyarakat terhadap karya seninya. Bagaimana jadinya, jika seorang seniman menyandarkan eksistensinya kepada selembar surat keterangan atau sertifikat?

    Sementara masyarakatnya sama sekali tidak tahu siapa dan apa karya si seniman itu. Atau, apakah kita bersedia menerima kondisi, seorang seniman yang sama sekali tidak dikenal dan sama sekali tidak pernah punya karya, tetapi punya selembar surat sertifikat….?
    Sertifikasi dan/atau akreditasi yang paling obyektif, bukan dilakukan oleh suatu lembaga, apalagi dilakukan oleh seseorang. Tetapi dilakukan oleh masyarakat.

    Sertifikasi, lazim dilakukan untuk mengukur sesuatu yang bersifat sangat teknis. Misalnya, unjuk-kerja peralatan ukur, peralatan laboratorium, pesawat terbang, kapal, kendaraan, bahan setengah jadi hasil industri, industri, barang industri, senjata, atau peralatan kerja tertentu (tidak semua). Sertifikasi, dilaksanakan supaya terjadi keseragaman dan pembakuan tertentu.

    Sedangkan untuk kasus seniman, apakah perlu diseragamkan dan dibakukan? Sebaliknya, seorang seniman justru memerlukan ‘perbedaan’ dengan seniman lainnya. Tanpa adanya perbedaan ini, seorang seniman tidak akan dikenal oleh masyarakatnya. Sialnya, di kalangan seniman sendiri, banyak juga yang beranggapan bahwa dia menyatakan diri sebagai pengikut, penerus, murid, atau peniru; dari seseorang seniman besar lainnya. Kalau sikap seperti ini yang dipegang sebagai acuan, maka jujur saja, memang seorang seniman lalu memerlukan selembar surat sertifikat, untuk menyatakan bahwa dirinya sudah mencapai tahap, kepandaian, dan keterampilan yang sama dengan seniman yang dijadikan acuan bagi dirinya. Apa seperti ini yang diinginkan…? Kalau yang diinginkan adalah acuan yang berlaku di luar negeri, lalu apakah seniman besar tingkat dunia seperti misalnya Rembrant, Van Goch, atau Leonardo da Vinci; dulu juga punya surat sertifikat? Jawabnya mereka sama sekali tidak punya surat sertifikasi!

    Kehalusan rasa, kreatifitas, inspirasi, gagasan, selera, dan mahzab dalam bidang seni, memang merupakan unsur-unsur yang mendukung karya seorang seniman. Tetapi, tidak satupun dari unsur-unsur itu yang bersifat teknis dan bisa disertifikasi. Jikapun akan dipaksa untuk disertifikasi, maka yang bisa dilakukan adalah unsur-unsur yang bersifat teknis dan bersifat sebagai dasar. Misalnya teknik melukis, teknik membuat patung, teknik karawitan, teknik vokal, teknik mendhalang, teknik grafis, dan lain sebagainya. Semua unsur yang versifat teknis ini, tentu saja harus dikuasai oleh seorang seniman. Tetapi, unsur teknis ini hanya merupakan bagian yang porsinya relatif kecil untuk suatu karya seni. Unsur-unsur lain yang bersifat non-teknis (kehalusan rasa, kreatifitas, inspirasi, gagasan, selera, dan mahzab) sebaliknya justru merupakan porsi yang sangat besar.

    Seniman, bukanlah ‘produk industri’. Bukan pula bahan dasar yang akan dijadikan produk lain yang memerlukan pembakuan dan keseragaman. Seorang dhalang seperti Ki Narto Sabdho atau Ki Timbul almarhum misalnya, menjadi seniman besar karena pengakuan masyarakat, bukan karena selembar surat sertifikat.

    • yang lebih tepatnya adalah mecerdaskan masyarakat dulu biar seleranya juga ga pas-pasan, sehingga bsa dihasilkan penilaian yang memang bisa dipertanggugjawabkan seocara moralitas. akhirya berimbas pada kreatifitas seorang seniman, kalau cuma secarik kertas bisa dibeli, oto dan matis, hanya kalangan teertentu alias yang berduit saja yang dapat sertifikasi seniman.

      • saya rasa kalo negara kita bersih dari hal hal KKN,akan susah untuk mendapatkan secarik kertas tsb,tentunya harus melalui uji kompetensi yang berstandart. kita haru jeli dalam persiapan kita dalm menghadapi global regional AFTA 2015, jangn sampai seluruh elemen profesi di negri ini hanya menjadi penonton dikarenakna belum mempunyai standart yang layak. agar kita lebih memahami, biusa kita buka di buku panduan klasifikasi jabatan standard internasional ( KJSI/ISCO- 1988) dimana seniman masuk dalam golongan 245.,mohon dipahami isi buku tersebut. makasi

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s