Semar Kamu Dimana?

Semar, sekarang sudah tiada. Hanya tinggal tulisan yang dikarang oleh para pujangga, dan sebagai hiasan perpustakaan dan toko buku. Tokoh dalam dunia pewayangan yang sangat santun, penuh kasih, suka menolong, pengayom dan lain sebagainya ini kiranya sulit dijumpai di era sekarang ini. Betapa tidak, kemarin saya mengikuti acara penggalangan dana untuk anak SLB di Surabaya. Salah satu yayasan yang mengelola para anak-anak yang berkebutuhan khusus ini merasa dirinya tak mampu lagi, dikarenakan kondisi gedung yang bukan hak miliknya sendiri dan gedung tersebut bisa dikatakan tak layak pakai.

Dari pihak dinas setempat justru saya merasa mereka mengembalikan hal tersebut kepada pemilik yayasan. Betapa tidak, melalui pagelaran singkat yang kami lakukan mengambil judul SEMAR KAMU DIMANA, yang sebenarnya adalah sindirian tiap individu dari berbagai kalangan ternyata mendapatkan akibat lain. Mereka menilai, bahwa jiwa Semar ada pada diri guru-guru SLB, yang katanya cap jempol. Kata ini manis, tetapi pahit saya rasa, melalui cerita yang saya sampaikan seharusnya mereka paham, dan mereka memang paham. dan saking pahamnya, mereka mengambil dalih tersebut supaya terlepas dari kwajiban menolong keterpurukan kondisi sekolah bagi SLB tersebut. Akhirnya aku hanya bisa diam dan diam lalu pulang solo.

Semar Kamu Dimana, menanyakan lagi keberadaan nurani terutama bagi para penguasa yang seharusnya memiliki jiwa pengayom bagi masyarakatnya. Menanyakan mereka, apakah mereka masih punya nurani? Karena keberadaan orang cacat bukanlah sebuah kesialan bagi mereka. Sejarah mencatat, tiap raja jaman dahulu selalu memiliki Abdi klangenan yang berupa orang-orang cebol, dan memiliki keanehan, serta cacat, dengan harapan mendapatkan berkah, dan mereka memeliharanya tanpa kekurangan suatu apapun.

Sosok Semar, juga perwakilan rakyat jelata yang cacat, karena dia tidak berkelamin, punya tubuh yang bulat, mata yang rembes, tetapi dia sebagai penasehat seorang satriya. Dalam ajaran ini menunjkkan kepada kita bahwa janma tan kena kirina (manusia tidak bisa dilihat dari sisi lahiriah saja). Kenapa hal tersebut tidak diperhatikan? Justru hanya tepuk tangan dan foto bersama yang bisa menggugah mereka sekedar untuk kenangan. Dalam pertunjukan juga saya sindir, meskipun kita duduk bersama dalam sebuah acara, meskipun kita satu bangsa, tetapi apakah kita saling kenal? Jawabnya ada pada diri kita masing-masing.

Semar kamu dimana ini saya sajikan dalam durasi waktu sekitar 25 menit, dengan menggunakan medium musik 2 buah kacapi sunda dan wayang punakawan. di dalam ceritanya para anak-anak semar mencari ayahnya, dan selalu mengingat ajran-ajaran kemanusian yang disampaikan oleh ayahnya, yaitu SEMAR. Akhir perjuntukan Garengpun berorasi dan mempertanyakan kepada audien, “SIAPA YANG BERANI JADI SEMAR?”

Iklan

4 pemikiran pada “Semar Kamu Dimana?

  1. Ping balik: Konsep Satria Piningit « andhalang

tolong masukannya yah

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s