SENTHONG BUKAN SEKEDAR KAMAR

Senthong merupakan salah satu kosakata jawa yang digunakan untuk menyebut kamar tidur. Kata senthong ini sudah tidak lazim lagi kita temui di masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah. Kata “kamar” lebih akrab mereka gunakan sebagai ganti kata “senthong” itu sendiri. Lalu apa yang membedakan senthong dengan kamar (bilik)? Jelas ada isensi yang berbeda. Kalau di jawa senthong itu merupakan tempat khusus bagi penghuni rumah untuk melaksanakan sebuah upacara sembahyang atau tempat untuk meditasi. Sedangkan kebanyakan kamar (bilik) hanya difungsikan sebagai tempat tidur.

Bagan Rumah Jawa

Sekali lagi saya tekankan bahwa senthong itu tidak hanya sekedar berfungsi sebagai kamar untuk tidur. Mari kita lihat konstruksi bangunan jaman dahulu. Rumah jawa bagi masyarakat biasa (bukan bangsawan) biasanya dibagi menjadi 4 bagian. Bangunan rumahnya terdiri dua buah rumah besar, yang bagian depan disebut sebagai pendhapa, bagian tengah atau sekat antara kedua bangunan rumah itu disebut sebagai paringgitan, bagian rumah selanjutnya disebut sebagai “omah njero” dan yang terakhir adalah “gandhog”.

Pendapa merupakan tempat untuk menerima tamu yang berkunjung ke rumah tersebut. Sedangkan paringgitan adalah berfungsi sebagai ruang keluarga, kalau jaman sekarang mungkin kedua fungsi ini dirangkum menjadi satu yaitu ruang tamu. Sedangkan bagian omah njero ini adalah tempat untuk instirahat para famili. Di rumah njero inilah terletak yang namanya senthong. Adapun fungsi dari gandhog adalah bisa dijadikan sebagai gudang ataupun pawon (dhapur). Untuk lebih jelasnya lihat gambar denah di bawah ini.

Gambar

Omah Njero

Di bagian omah njero ini ada semacam bilik2 yang dibagi menjadi 3 bagian yang umumnya orang jawa menyebutnya “senthong”. Senthong terletak dibagian omah njero yang paling belakang dibatasi oleh saka sentral sampai bagian paling belakang. Senthong dibagi menjadi tiga bagian yang disebut sebagai senthong kiwa, senthong tengah dan senthong tengen. Senthong-senthong ini memiliki fungsi sendiri-sendiri. Senthong tengen biasa digunakan sebagai tempat tidur oleh yang punya rumah (bapak ibu), sedangkan senthong tengah biasanya dikosongkan, dan tertutup rapat. Senthong kiwa adalah sebagai tempat gerabah, peralatan dapur, padi atau sebagai gudang berasnya. Gerabah atau alat rumah tangga ini memang sengaja ditaruh disana sebagai isi senthong, sedangkan gerabah yang digunakan memasak tiap harinya berada di bagian pawon yang biasanya disebut sebagai gandhog. Letak gandhog ini bagi rakyat biasa di pedesaan terletak di sebelah kiri omah njero. Bagi yang kaya juga bisa diletakkan di bagian manapun omah njero, seperti belakang, samping kanan dan samping kiri, tergantung kebutuhan sang punya rumah.

Senthong Tengen

Senthong tengen adalah sebuah bilik yang biasa digunakan tidur. Meskipun tempat tidur, hanya orang tua atau si empunya rumah sendiri yang boleh masuk, wilayah ini termasuk privacy bagi tuan rumah. Isinya biasanya berupa tempat tidur, kecohan, kastok dan perabot lainnya.

Meskipun berfungsi sebagai tempat tidur bapak ibu, namun dalam melakukan hubungan intimnya belum tentu dilakukan di tempat ini, apalagi kalau si tuan rumah pengin punya momongan atau anak. Karena dalam tradisi jawa, membuat anak melakukan sebuah tradisi yang sakral. Dan sebagian orang ada yang melakukan hubunga intim tersebut di senthong tengah.

Senthong Tengah

Senthong tengah yang letaknya di tengah ini memang sengaja di kosongkan bagi orang jawa. Kepercayaan orang jawa jaman nenek moyang kita bisa kita rasakan peninggalannya di ruangan ini. Karena ruangan ini memang disakralkan, meskipun isi dari ruangan ini sama persis dengan senthong tengen, yaitu tempat tidur dan tertata rapi, kecohan dan ada sebagian orang jawa yang menggunakan patung loro blonyo di bagian senthong tengah ini.

Nama lain dari senthong tengah adalah sepen (tempat untuk menyepi) atau sebagian orang menyebutnya dengan sebutan pasren (tempat untuk pepasren/sesaji). Orang jawa menggunakan kamar ini sebagai bentuk sesaji atau sebagai bentuk rasa hormat bagi dewi padi yaitu dewi Sri. Jadi kamar ini kosong. Kekosongan ini diisi bila ada masalah dalam rumah tengga tersebut, biasanya sang ayah atau sang ibu yang ingin berdoa, maka dia masuk ruangan ini untuk berdoa. Senthong tengah ini juga dikenal dengan sebutan Sri, atau tempat Dewi Sri disimbolkan dengan patung loro blonyo sebagai simbol kemakmuran. Sebagai sarana meditasi atau berdoa maka tempat ini digunakan oleh bapak ibu sebagai tempat memadu kasih tatkala mereka berkeinginan memiliki anak. Jadi keinginan memiliki anak bagi kepercayaan jawa merupakan upacara sakral yang harus melalui tahap-tahap tertentu dan melakukan semacam upacara tertentu jika menginginkan anaknya sholeh. Hal tersebut tidaklah menentang aturan agama, karena dalam agama apapun ada tata cara tersendiri dalam melakukan senggama apalagi hubungannya dengan mengharapkan kehadiran seorang anak.

Senthong tengah biasanya gelap sekali tanpa ada cahaya yang masuk, karena letaknya yang memang ditengah, dan di konstruksi bangunan jawa tidaklah mengenal adanya bentuk jendel sebagai pentilasi. Mengingat bahan yang digunakan juga sudah dari kayu yang tentunya sudah cukup sebagai lubang pentilasi sebagai sirkulasi udara. Kenapa ruangan ini dibuat gelap, karena sebagai sarana berdoa, entah bagi ayah atau bagi ibu, sebelum melakukan doa biasanya mereka juga melakukan puasa, entah itu ngrowot, ngebleng, mutih dan lain sebagainya. Setelah itu baru masuk kamar dan berdoa, keadaan ini sering kita kenal dengan istilah pati geni, yang artinya tidak melihat cahaya. Atau berada diruang hampa cahaya.

Tulisan yang sedikit dan minim ini hanyalah untuk menarik para pemerhati budaya dan tradisi jawa. Semoga yang sedikit ini bisa dilanjutkan ke hal yang lebih lebar dan menjadikan artikel ini bermakna dan berfungsi serta sebagai sarana untuk menularkan tradisi kita orang jawa ke anak cucu kita kelak. Saran dan kritikan sangat diharapkan, terima kasih.

6 thoughts on “SENTHONG BUKAN SEKEDAR KAMAR

  1. Bentuk rupa rumah tradisional Indonesia, umumnya sangat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi alam sekelilingnya. Bahan-bahan baku yang dipakai, umumnya juga berasal dari lingkungan sekelilingnya. Ini merupakan simbiosis mutualis yang bagus. Sayang masyarakat ‘modern’ Indonesia sekarang banyak mengabaikan semua hal ini. Kita banyak terkecoh, terbuai, dan terkesima hampir semua hal yang berasal dari negeri seberang. Kalau yang dimaksud itu adalah ‘banyak negeri seberang’, mungkin bagus saja. Tetapi nyatanya yang dimaksud dengan ‘negeri seberang’ itu, lazimnya adalah Amerika. Bahkan untuk nama perumahan, kompleks perumahan, real estate, atau apapun sebutannya; sekarang banyak memakai istilah asing…..

    ‘Senthong’….? Istilah dari mana itu? Tentu banyak yang tidak tahu apa itu ‘senthong’. Celakalah kita dan anak turun kita, yang tidak tahu apa itu senthong. Mereka tahunya ‘kamar’, bahkan belakangan di hotel atau villa, mereka lebih mengenal ‘room’. Misalnya: Borobudur room, Bali room, Mawar room, Room 314, dan sebagainya. Gejala apa ini….? Jawabnya? Ini adalah gejala sok kebarat-baratan, sok asing, sok modern. Ini merupakan gejala pada bangsa yang minder, nggak yakin kepada dirinya sendiri…..

    Pernah memperhatikan rumah tradisional? Belum? Waaaaa……
    Rumah tradisional di Indonesia, biasanya berbahan kayu atau bambu. Bahan ini, kalau dipakai sebagai bahan untuk dinding, akan berdampak saat siang hari dingin, tetapi saat malam hari hangat. Bandingkan dengan beton. Siang hari dingin, malam hari lebih dingin lagi. Kayu? Meloloskan udara segar saat siang hari, dan menghalangi udara dingin saat malam hari. Beton? Dingin selama 24 jam, siang dan malam. Hasilnya? Kayu atau bambu hangat dan manusiwai (human). Sedangkan beton, dingin dan tidak bersifat hangat bagi manusia. Tembok bata? Lembab dan basah….

    Rumah tradisional, umumnya berbentuk ‘rumah panggung’. Hasilnya? Udara di dalam ruang-ruang dalamnya selalu segar, tidak memerlukan mesin pendingin udara, debu akan jatuh ke bawah panggung, udara segar akan masuk dari celah-celah lantai ke arah atas (ke dalam ruang). Ingat nggak konveksi udara panas itu mengalir dari arah bawah ke arah atas. Jadi rumah tradisional akan menghasilkan ruang yang berudara segar dan sehat…..

    Itu baru sedikit dari ‘pelajaran hidup’ yang berasal dari nenek-moyang kita. Masih banyak pelajaran hidup yang berasal dari nenek-moyang kita, yang selama ini kita abaikan begitu saja, hanya karena kita ingin diakui eksistensinya oleh orang lain. Hasilnya, kita membangun rumah tempat tinggal kita, seperti orang Barat, seperti di Amerika. Ini karena kita sok modern, sok asing. Dan hasilnya? Kita menjadi orang asing di rumah kita sendiri. Makanan kita asing, rumah kita asing. Mobil kita asing. Buku kita asing. Barang-barang kita produk asing. Nyanyian kita asing. Bahasa kita juga asing. Dan akhirnya, kita menjadi orang asing di negeri kita sendiri, di rumah kita, di tempat kerja kita, dan di mata lingkungan kita. Kalau sial, kita bisa menjadi bangsa yang tak berkepribadian, karena kita menjadi pengikut, peniru, penyontek, plagiat, dan akhirnya berubah menjadi ‘begundal asing’ di negeri kita sendiri……

    • terima kasih mas Bram. sewajarnya kita mencari esensinya sehigga kedepannya bisa mengembangkan tetapi tidak lepas dari apa yang sudah ditularkan dan diturunkan kepada kita.

  2. setahu saya, pringgitan itu bangunan yang ada disamping kanan dan kiri. ini biasanya rumah Adipati [bupati]. rumah masyarakat awam tidak mungkin membuat pringgitan. Pringgitan biasanya tidak ditempati oleh si empunya rumah, melainkan sebagai tempat yang disediakan khusus untuk tamu.

    • setahu saya sih sebelum wayang ada itu awalnya adalah cerita antara orang tua dan anak2 di ruang paringgitan ini. Ceritanya menceritakan nenek moyang mereka, garis kterununan mereka. Lalu ada jasa seorang saman yang mampu menghadirkan roh nenek moyang dengan upacara tertentu yang dilakukan diruang paringgitan ini. Untuk lebih jelasnya mungkin di pura mangkunegaran itu sudah cukup menjelaskan letak paringgitan, dimana tempat paringgitan ini dihiasi oleh foto2 atau gambar2 trah kerajaan tersebut.

  3. Terimakasih infonya. Tp maaf saya mau tanya kalau sentong tengah yang sekarang hanya sebagai gudang, apakah boleh digunakan sebagai tempat tidur? Sebenarnya apakah larangan itu hanyalah mitos?

    • silahkan saja, apapun fungsinya yang jelas lebih bagus difungsikan daripada tidak. mitos sih asalnya juga dari manusia, tetapi perlu dicatat, ada berbagai mitos yang memang asalnya dari manusia, tetapi hasil dari interaksi dengan alamnya.

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s