“Menghancurkan” Wayang Wong Sriwedari

Solopos, Senin 1 Agustus 2011

Oleh Purnawan Andra

Tahun ini wayang wong Sriwedari (WWS) telah mencapai usia lebih dari satu abad. WWS adalah sebuah kelembagaan kesenian komersial yang didirikan tahun 1910 untuk melengkapi fasilitas hiburan yang ada di kebon raja Sriwedari atas perintah Paku Buwono X. Pada saat yang sama terjadi perubahan struktur sosial masyarakat dengan lahirnya golongan masyarakat menengah (pengusaha, pedagang dan pekerja). Status sosial ini meningkat dengan dukungan ekonomi yang dimilikinya dan pemilik modal ini pula yang menjadi perintis dan pemilik grup wayang wong luar istana (Brandon, 1967)

Maka dari tembok istana menjadi seni komersial mengubah sifat hubungan dan bentuk kelembagaan patron-klien dan patrimonial menjadi produsen-konsumen dan kapitalis. Pengertian pertama menunjuk pada nilai kelembagaan yang bersifat raja, abdi dalem dan perintah; simbol budayanya bersifat mistis; dan norma budayanya bersifat kepatuhan. Pengertian kedua menunjuk pada pola kelembagaan yang bersifat profesionalisme, pasar dan penawaran; simbol budayanya realis; dan normanya bersifat individual (Kuntowijoyo, 1987).

Sampai dekade 1960-an, WWS merupakan salah satu jenis hiburan populer. Kehadiran bintang panggung merupakan salah satu unsurnya, yang berbanding lurus dengan minat penonton dan berpengaruh pada pendapatan keuangan. Tapi pasca meninggalnya Rusman, Darsi dan Surono tampaknya berpengaruh pada publik WWS. Adanya keterlambatan alih generasi merupakan salah satu sebabnya, terkait dengan mempersiapkan seniman wayang secara profesional.

Sejarah

Meminjam analogi Afrizal Malna (2010) memahami WWS tidak seperti membaca sejarah Barat. WWS membawa kita pada sebuah cara berpikir yang membawa pada ruangan tertentu dimana pandangan hidup dipraktekkan dalam seni pertunjukan. Ketika menonton WWS kita bagai masuk dalam perpustakaan Plato, tentang idealisme dan ide-ide (meski kita tidak pernah sampai pada ide-ide itu sendiri). Kadang seperti ada di perpustakaan Heidegger: kita membaca tidak dengan cara melihat, tidak dengan kesadaran, karena kesadaran itu cenderung melupakan. Karena kesadaran itu dirutinkan, dilembagakan dalam hidup sehari-hari, yang membuat kita lupa. Kadang bagai masuk ke perpustakaan Hegel tidak ada penanda sehingga kita selalu bergerak diantara yang substansi dan artifisial. Penanda yang bergerak untuk mencapai (bukan untuk memenuhi) kerinduan itu. Hal ini yang membuat kita menjadi generasi ahistoris, tidak ada jejak-jejak sejarah yang mengantar kita pulang. Sejarah justru ada dalam diri kita, dan terletak pada cara kita membacanya. Tradisi, oleh karenanya adalah kita, bagian dari diri kita.

Memahami persoalan pertumbuhan, perkembangan dan kemunduran WWS secara proses maupun struktural dihadapkan pada berbagai macam permasalahan sebagai produk seni pertunjukan, manajemen internal dan pemasaran, problematika gedung pertunjukannya serta keberlanjutannya di masyarakat. Adanya dukungan dana dari Pemkot dan pengangkatan status PNS secara positif memberi jalan keluar dari fenomena kepunahan, tapi di sisi lain membuat WWS lebih merupakan museum hidup yang tidak produktif ditengah persaingan industri hiburan yang ketat.

Mengutip Yunanto Sutyastomo (Solopos, 7/5/11) merevitalisasi WWS berarti mengubah pemahaman dasar bahwa WWS bukan lagi simbol kota, tetapi memiliki posisi yang tidak jauh berbeda dengan seni pertunjukan yang lain. Satu-satunya jalan adalah WWS hadir di masyarakat luas, bukan hanya untuk penonton setianya saja. Dengan memanfaatkan ruang-ruang publik yang ada di kota, WWS bisa memperkenalkan diri lagi kepada masyarakat, dalam konteks WWS harus menyapa masyarakat. WWS harus berdasar pada profesionalisme, memiliki kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Menurut penulis, dengan kompleksitas permasalahan yang dihadapi WWS ini, perlu kejernihan pikiran untuk melihatnya. Dengannya, bisa jadi kita perlu ‘menghancurkan’ Sriwedari yang selama ini menjadi bagian ikonik sejarah masa lampau yang terus dipuja (namun tidak pernah disikapi dengan kesungguhan), menggantikannya dengan desain strategis sebuah rencana budaya yang visioner. Memperbincangkan WWS dan wayang wong di kota Solo sama dengan menjawab teka-teki lebih dulu mana antara ayam dan telur.

Masalah Utama

Maka lepas dari konteks kesejarahan, sosial maupun politis, WWS hanya bagian kecil dari masalah utama. Dengan kapasitasnya sebagai kota budaya, wayang wong tetap dan sebenarnya telah menjadi penanda kota. Tanpa mengesampingkan satu sama lain, diluar Sriwedari masih ada wayang wong RRI, ISI, di sanggar-sanggar tari dan lainnya. Dengannya, wayang wong bisa dijadikan ikon kota Solo, dengan tentu saja memerlukan sebuah kerja besar berbagai pihak dengan difasilitasi Pemkot. Perlu sosialisasi publik, perlu dibangun apresiasi agar masyarakat merasa memiliki. Dan beberapa lembaga yang mempunyai komitmen untuk itu perlu bersatu dalam konsep yang satu. Keterlibatan ISI, SMKI, sanggar-sanggar seni, sekolah, kelompok-kelompok pemerhati seni lainnya, diperlukan.

Yang harus dipahami WWS adalah bagian dari seni pertunjukan wayang wong. Sebagai sebuah genre, wayang wong memiliki kompleksitas dramatik. Ia mudah dicerna,  komunikatif, unsur seninya beragam yang telah menjadi ikon kota dalam perspektif historis. Sehingga pengembangan wayang wong bisa dilakukan berdasar wayang pakem dengan estetika klasik, wayang yang dikembangkan secara serius dengan kajian yang mendalam seperti Mataya Langen Swara atau dalam bentuk pemanfaatan teknologi, dan wayang sosial yang berformat sederhana. Unsur estetika (pakem gerak, kostum) tidak harus hadir, yang penting adalah unsur cerita (folklore) dan dramatika (dialog) (Wasi Bantolo, 2011).

Dengan demikian wayang bisa kembali menjadi milik publik. Setiap kampung, kelurahan bisa mempunyai wayang lewat patung dan topengisasi tokoh-tokoh wayang pada taman desa, pos kamling dan lainnya dengan didukung legalitas Pemkot. Di sekolah dianjurkan kurikulum muatan lokal pelajaran wayang orang melalui tari dan drama. Harus mulai diwacanakan dan apresiasi kepada teater tradisi dan seni tradisi pada usia emas. Ditumbuhkan sikap kreatif dan modern pada wayang wong. Hal ini yang akan menjamin tidak terputusnya generasi wayang orang.

Bagi mereka yang pernah mengenal wayang secara sepintas serta mempunyai pengalaman estetik dalam mengapresiasi wayang, dengan media-media wayang dari jenis yang simple tadi, di bawah sadarnya akan berusaha ingin tahu dan mencoba mencari tahu sejarah wayang wong yang sesungguhnya. Akhirnya mereka akan datang ke gedung-gedung pertunjukan, mempelajari wayang wong yang original dan akan mendapatkan kualitas pengalaman estetik yang sesungguhnya. Sebuah kerja intelek desain kebudayaan strategis, tengah diberlangsungkan.

2 thoughts on ““Menghancurkan” Wayang Wong Sriwedari

  1. mari kita hidupkan kembali bro,,,walaupun saya bukan orang seni tapi saya ingin kesenian WWS ini menjadi populer seperti dulu,,,saya kemarin habis lihat pertunjukan disana dan mayoritas penontonya adalah orang tua,saya pikir itu merupakan tanda bahwa apresiasi anak-anak muda sangat kurang,,,
    saya pikir harus ada kerjasama antara pemkot kota solo,keraton,dan mahasiswa seni khususnya,,

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s