Mengenal Demokrasi

Nabi Sulaiman berkata, “Tidak ada yang baru di bawah sinar matahari.” Iya bener juga, hidup adalah sama, cita-cita adalah sama, hukum alam sama di setiap masanya. Perlu diketahui bahwa ada 2 aspek kehidupan yang saling terkait, yaitu semangat ketergantungan dan kebebasan. Sejak bayi kita tergantung pada orang tua, mulai bisa memahami hidup akhirnya kita dianggap dewasa dan diberi kebebasan. Selalu begitu dan seterusnya hingga akhir hayat. Pacaranpun kita jadi tergantung pada pacar, putus pacaran kita bebas lagi. Dalam kehidupan negarapun, kita juga berawal dari ketergantungan negara lain, lalu berusaha merangkak dan akhirnya bisa berdikari.

Kebebasan

Kecenderungan kehidupan dari lahir adalah kebebasan. Tiap insan, tiap binatang dan tiap tumbuhan bahkan benda mati sekalipun. Jika kita melihat anak kecil yang imut, pengin menggendong. Tetapi anak kecil ini juga butuh kebebasan, diapun bisa menolaknya. Begitu pula dengan hewan piaraan sekalipun, kucing kadang mau dimanja, tetapi kadang dia lari dari pelukan kita. Jadi kebebasan merupakan kebutuhan kodrat tiap makhluk di alam raya ini. Untuk itulah terjadi berbagai polemik perang karena beradu ego ingin menang dan ingin bebas.

Demokrasi

Ketika kita menelusuri penyebab alasan demokrasi, kita akan temukan bahwa demokrasi terletak pada idealisme. Dari agama (kepercayaan), belajar, pendidikan telah muncul kecenderungan manusia ingin bebas, dari pertimbangan yang tenang, dimana pengenalan tentang kasih sayang dan cinta yang dapat kita lihat pada binatang-binatang buas dan burung-burung. Rusa hidup bersahabat, burung dara dan merpati terbang bergerombol, burung gereja suka berbagi tanggungjawab atas anak-anak mereka dan sesama teman. Semua itu menjadi impian atau cita-cita bagi tiap manusia. Mampukah manusia mengaplikasikannya dalam kehidupan bersama? Disamping kita ingin bebas, kita juga diberi akal pikiran yang tentunya lebih cerdas daripada burung atau rusa yang hanya mengandalkan intuisi.

Saya yakin tiap diri kita punya ego yang kuat. Punya hasrat yang tinggi, punya ilmu dan latar belakang yang berpengaruh terhadap ego tersebut. Lalu bagaimana menyatukan ego tersebut? Agar bisa mewujudkan demokrasi dan berujung pada kedamaian umat? Sulit memang, tetapi dengan kebijaksanaan, agama, belajar menghargai, tata susila dan lain sebagainya akan mampu mempersatukan beragam ego. Satu cita-cita bersama yaitu demokrasi, menuju ke negara yang damai dan sentausa itulah dasarnya. Lalu tiap individu berusaha memahami dan ikut urun rembug, sumbangsih guna kemajuan bersama. Berarti apa? Ego kita letakkan berdasarkan cita-cita luhur bangsa ini, yaitu demokrasi. Setelah demokrasi terwujud dengan sendirinya kedamaian, kenyamanan, alam yang  sejuk akan terbentuk dengan sendirinya.

One thought on “Mengenal Demokrasi

  1. Pingback: Konsep Satria Piningit « andhalang

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s