WAYANG MAGAK

Wayang merupakan warisan kesenian yang sangat perlu dikembangkan, mengingat bahwa wayang merupakan salah satu asset kesenian dan sudah menjadi budaya bangsa Indonesia yang penuh dengan makna filosofi dan pandangan hidup. Ironisnya masyarakat Indonesia pada umumnya dan orang jawa khususnya semakin menjauh, terutama generasi mudanya. Hal ini sangatlah menggugah hati kami untuk mencari dan mencoba guna mendekatkan kesenian wayang bagi kalangan generasi penerus bangsa ini. Faktor penyebab dari keterasingan wayang bagi generasi muda ini tidaklah lain terletak pada keseluruhan pertunjukkan wayang yang sudah mapan dan terasa sudah tidak ada lagi tempat untuk membuat yang lebih bagus (dalam artian estetika keindahan) dari bentuk pertunjukan wayang tersebut.

Secara global pertunjukan wayang terdapat 4 unsur penting, yaitu cerita, bahasa, boneka wayang dan musik (iringan). Keempat unsur ini sangat mendominasi dan saling menjalin antara satu medium dengan medium lainnya. Cerita merupakan unsur utama dalam pertunjukan wayang. Pada umumnya mengambil atau mengembangkan (carangan) cerita dari Mahabarata dan Ramayana. Pengembangan cerita-cerita ini tergantung pada kepiawaian para seniman dalang sendiri, dan di sini dibutuhkan kreatifitas yang sifatnya imajiner guna memperindah sebuah cerita. Ketiga unsur lainnya seperti boneka wayang, bahasa dan musik merupan media penyampaian cerita kepada audien. Sebagai medium maka ketiga unsur ini sebenarnya harus sudah dipahami dan dimengerti oleh kalangan peminat wayang, seperti halnya boneka wayangnya. Hal tersebut mungkin diketahui oleh generasi dahulu, pertanyaannya sekarang adalah apakah para generasi memahami dan tahu tentang nama-nama wayang tersebut dan paham tentang keindahan bahasa yang terdapat dalam pertunjukan wayang tersebut? Padahal di dalam pertunjukan wayang penuh dengan simbol, seperti gerak wayang yang hanya dua dimensi, seperti bahasa wayang yang banyak menggunakan bahasa simbol dan kiasan.

Di jaman globalisasi ini dimana masyarakat kita dibenturkan berbagai bentuk alat komunikasi yang mempermudah mereka untuk mengakses berbagai bentuk kesenian baik itu tradisi maupun modern dan kontemporer sekalipun membuat masyarakat kita makin enggan mendekati wayang yang dinilai monoton dan sudah mencapai titik klimaks (dalam pengertian adi luhungnya). Selain itu kesibukan tiap individu, kekacauan dalam system pemerintahan, dan lain sebagainya menyebabkan kejenuhan bagi masyarakat, dan kejenuhan ini biasanya lari pada hiburan yang sifatnya instan dan tidak membutuhkan energi untuk berfikir. Padahal dalam pertunjukan wayang tradisi, penonton harus paham tentang cerita, tentang simbol, tentang filsafat dan lain sebagainya. Jika hal tersebut tidak dipahami maka terjadi mis komunikasi antara penyaji dan penonton. Hal inilah menurut pandangan kami merupakan faktor utama ditinggalkannya wayang oleh generasi muda kita. Coba saja di logika, daripada nonton wayang yang harus mengetahui seluk beluknya, lebih baik main ke diskotik, atau kafe, atau main game online, facebook dan lain sebagainya. Mereka lebih merasa hal itu bermanfaat dan mengurangi beban mereka. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah harus diubah nilai-nilai yang terkandung dalam pertunjukan wayang (terutama pesan-pesan moralnya)? Tentu saja tidak, masih banyak jalan menuju Roma, justru hal ini merupakan tantangan bagi generasi dalang jaman sekarang untuk menjawab tantangan jaman yang semakin tidak menentu ini.

Berangkat dari pemikiran tersebut maka komunitas Ladrang Kantil berusaha membuat pertunjukan wayang yang sengaja ditujukan bagi para pemuda-pemuda, dengan harapan para pemuda kita mulai mengenal wayang kembali dan mencintai pertunjukan wayang. Konsep dasar tentang segmentasi ini adalah bahwasanya yang hidup di masa yang akan datang adalah generasi muda, dan bukan generasi tua. Sekarang boleh di bilang wayang masih eksis karena peminatnya adalah bapak-bapak dan kakek-kakek yang mungkin sepuluh tahun kedepan mereka sudah meninggal dunia. Setelah masa itu bagaimana nasib pertunjukan wayang? Tentu saja diambang kehancuran. Maka dari itu Ladrang Kantil membuat genre pertunjukan wayang yang diberi nama “Wayang Magak”. Wayang magak sebagaimana namanya merupakan sajian wayang yang tidak seperti pertunjukan pada umumnya, artinya setengah-setengah, tidak utuh. Pengertian “Magak” di sini bisa direalisasikan dalam sajian bahasa, musik, cerita, dan properti panggungnya, tetapi masih menggunakan boneka wayang kulit purwa. Maksud magak di sini adalah perombakan yang tidak menyeluruh, mengingat semua bentuk kesenian membutuhkan proses. Adapun unsur yang berusaha rombak adalah berupa alur cerita, bahasa dan musik.

1. Alur cerita

Alur cerita dalam wayang magak berbeda dengan alur cerita pada pertunjukan wayang umum. Baik itu berupa sanggit (cara penyampaian cerita) maupun alurnya. Hal ini disesuaikan dengan kondisi penonton atau calon penonton yang diharapkan. Dengan kata lain berhubung pemuda kita sekarang lebih membutuhkan hal yang sifatnya instan maka dalam pembuatan alur dalam pertunjukan wayang magak ini juga tidak bertele-tele (simple). Sebagai contoh dalam pertunjukan wayang semalam perlu adanya plot cerita yang menggunakan lebih dari 3 adegan, dalam wayang magak diharapkan adegan tidak lebih dari 3 setting tempat supaya penonton mudah memahami cerita yang akan disampaikan.

2. Bahasa

Sealain itu hal lain yang dirombak adalah unsur bahasa, mengingat para pemuda kita sekarang jarang mengetahui bahasa krama atau bahasa halus dalam pertunjukkan wayang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa komunikatif yang sering digunakan dalam kehidupan keseharian masyarakat kita dijaman sekarang.

3. Gendhing (musik)

Sedangkan dalam unsur musik adalah hal-hal yang berhubungan erat dengan iringan yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang. Pada dasarnya pertunjukan wayang purwa sudah memiliki aturan sendiri dalam penggunaan iringan ini yang disesuaikan dengan suasana adegan, seperti adegan 1 negara Astina maka gendhingnya harus Kabor dan lain sebagainya. Hal inipun hanya diketahui oleh generasi terdahulu kita, sedangkan bagi generasi kita sekarang sudah jarang yang paham hal tersebut. Maka dari itu iringan di sini juga kami sentuh semampu kami, baik dalam penggunaan instrumennya maupun dalam bentuk gendhing-gendhingnya.

Hal yang perlu digaris bawahi bahwasannya di jaman sekarang sudah jarang orang memiliki halaman luas, mungkin ini merupakan salah satu alasan kenapa masyarakat kita lebih memilih campursari daripada pertunjukan wayang. Dari pemikiran ini kami hanya menggunakan beberapa instrument gamelan yang dirasa bisa membantu jalannya alur cerita. Mengingat fungsi musik di sini hanyalah sebagai ilustrasi ataupun penguat adegan atau situasi tertentu. Tidak hanya itu perkembangan musik yang terjadi di jaman sekarangpun ikut menjadi pertimbangan bagi pemilihan atau pembuatan aransemen baru dalam sajian wayang magak ini. Seperti kasus dijaman sekarang, pemuda di kota lebih senang mendengarkan musik popular daripada gamelan, sedangkan masyarakat di desa lebih senang mendengarkan campursari daripada gamelan. Permainan musik sebenarnya merupakan permainan ritme, nada dan birama. Ketiga factor ini menjadi konsep dalam membuat aransemen baru tersebut, dengan catatan tidak semua iringan yang digunakan merupakan aransemen baru, semua dikembalikan pada kebutuhan adegan atau alur cerita.

Hal yang tidak kalah menarik dalam sajian wayang magak adalah segi efisiensi waktu sajian. Durasi waktu yang digunakan hanya berkisar 2 sampai 3 jam atau disesuaikan dengan situasi penonton. Jika di rasa penonton sudah mulai bosan dengan sajian, maka sajian bisa lebih dipercepat.

Kesimpulannya bentuk wayang magak merupakan sajian wayang yang mencoba mendekati segmentasi tertentu dengan bentuk sajian yang disesuaikan dengan selera mereka. Adapun konsep dasar dari pertunjukan ini adalah sederhana, mudah dipahami dan efisien.

2 thoughts on “WAYANG MAGAK

  1. setuju…tp klo bisa tetep ati2 dlm bkn movement, jgn sampe krn pgn bikin modern wayang, qt kehilangan content…ditunggu artikelnya lg. Useful. Thanks

    • Terima kasih telah berkunjung, sebenarnya banyak lagu anak-anak yang saya aransemen panjang dan pendek dengan menggunakan gamelan dan atau menggunakan komputer,,tapi belum sempat mengunggahnya

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s