Wayang Kulit Purwa (Cerita)


Cerita wayang dibagi dalam 2 bagian besar, yaitu cerita baku dan cerita carangan. Cerita baku bersumber pada Mahabharata dan Ramayana. Inipun masih tergantung daerah masing-masing, yang lazim disebut dengan gaya. Gaya ini secara besar dibagi menjadi 2 bagian, gaya kraton dan gaya pasisiran. Gaya Kraton jelas perkembangannya diprakarsai oleh kraton (masih dalam penelitian, bahwa sejauh ini kraton hanyalah mengakui dan wayang diduga merupakan budaya atau tradisi rakyat jelata).

Adegan Goro-Goro


Gara-gara amenangi jaman owah, den arani Kala Babrah, lakune si wewe Gidrah, sasmitane jaman wis bubrah, kaya bali nyang jahiliyah. Akeh wong sungkan ngibadah, kumrembyah kakehan cacah, ta betah ngampah hanjarah rayah, makarya wegah ning golek opah, lumuh ngalah dadi wong srakah, amal jariyah wis ora diarah, obah polah kudu mamah, ora mesakake wong lagi susah.

Kurawa Ada 102


Kurawa itu berjumlah sekitar 102. Ceritanya nih, setelah melahirkan keseratus putranya seperti cerita singkat di atas, Gendari masih pengin punya anak lagi yang lahirnya lumrah manusia. Akhirnya dia melahirkan bayi kembar putra dan putri. Tentu teman-teman Andhalang sangat pengin tahu kan nama-nama Kurawa itu siapa saja.

Pengertian Sanggit dan Kerjanya


Sanggit sudah tidak asing lagi bagi telinga penggemar wayang, yang bisa diartikan sebagai ciri khas seorang dalang dalam membawakan cerita tertentu. Dalang A dan dalang B dalam sajiannya akan berbeda meskipun mereka menyajikan satu lakon. Kadang juga dalang A dalam membawakan lakon yang sama tetapi dipentaskan beberapa kali ditempat yang berbeda juga akan berbeda dalam sajiannya.

Wayang Purwa


Wayang merupakan salah satu bentuk seni tutur yang berkembang hingga sekarang. Saya tidak akan menjelaskan sedetail mungkin karena sudah banyak yang membuat website maupun blog yang berisikan tentang sejarah wayang. Dalam catatan ini saya hanya ingin menulis tentang wayang purwa gaya Surakarta, itupun semampu dan seingat saya.