Santet, Musik dan Narasi Kultural


Santet, diksi dan kata sederhana yang sudah akrab bagi telinga masyarakat Indonesia. Santet secara sederhana merupakan sebuah usaha untuk mempengaruhi psikologis dan fisik atau memasukkan benda-benda tertentu pada tubuh seseorang. Santet subur bertebaran di Nusantara. Bahkan keberadaannya sudah kekal sebelum negeri ini merdeka. Santet tak semata sebuah aktivitas magis, namun darinya banyak menarasikan simbol-simbol kultural.…

Kesenjangan Teks Musikal dan Alur Melodi Musik


Madura, Soto Betawi. Semua adalah sama-sama soto namun kenapa harus diikuti dengan nama wilayah-wilayah tersebut. Jawabannya cukup simpel, Jika Merriam (1964) menekannya studi musik dalam konteks budaya maka bisa pula kita tekankan studi soto dalam konteks budaya. Artinya, dalam balutan vokal maupun soto tersebut tertuang tentang konsep-konsep bumbu maupun piranti budaya masyarakat pengkultusnya.

Bebaskan Beban Sejarah Genjer-Genjer


Jika anda pernah menyaksikan film Pengkhianatan G 30S/PKI besutan sutradara Arifin C.Noer tentu tidak asing lagi dengan sepenggal teks lagu di atas. Ya, dalam film itu teks lagu yang berjudul genjer-genjer di atas dinyanyikan oleh anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat ketika beberapa jendral diculik dan disiksa. Lagu yang diidentikkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) tersebut menjadi haram di era orde baru. bahkan penciptanya Muhammad Arief asal Banyuwangi meninggal karena dibunuh, dianggap sebagai pengikut PKI pada pembantaian tahun 1965-1966.

Gamelan “Musik Bangsa Primitif”


Prestise indah yang disandang gamelan memang membanggakan. Tapi taukah kita bahwa di balik balik kemegahan sejarah yang mengagumkan itu, gamelan ternyata juga menyimpan cerita suram. Gamelan pada awalnya oleh bangsa Barat –Eropa- dianggap sebagai alat musik primitif, kuno dan terbelakang.

Bukan Musik Biasa Pasca Sadra


Perdebatan akan bunyi sebagai musik dan tak musik memang telah berlangsung lama. Berabad-abad lamanya kita telah mencoba merumuskan kategori keindahan suara dan bunyi-bunyian. Bagi kalangan publik, seperti halnya dijelaskan Culver (1941) dan Merriam (1964), suara dengan harmoni yang terumuskan, pitch yang runtut dan ketukan ajeg atau bahkan akord yang tersetruktur rapi telah mampu menjadi simbol akan kredo bunyi yang indah, hingga pada akhirnya itulah yang mereka sebut sebagai ‘musik’. Di luar itu ‘noise’, bukan musik, yakni suara-suara terpinggirkan yang tidak dikehendaki kehadirannya.

Yuk Bermain


Tidak juga. Dalam tradisi musik gamelan dikenal istilah gadhon (seperti kecapi sulingnya orang Sunda). Yaitu permainan instrumentalia. Biasanya hanya menampilkan instrumen-instrumen garap (intrumen penting yang mengarahkan permainan nada), seperti rebab, gender, gambang, siter, suling, slenthem.

Cublak Suweng Gaya Baru


Sambil menunjukkan tangan dalam posisi digenggam ke orang yang menebak. Awas bagi yang menebak jangan sampai salah, kalau salah maka dia harus menjadi penebak lagi. dan jika masih salah lagi, bisa-bisa dihukum berlari mengelilingi tempat bermain, sambil di kasih suport dan ejekan.