Ganesa 2 (Versi Koclok)

Mata yang bak bola api itu menghujam tubuhnya, dan Kamajaya-pun sekarang menjadi abu…..

Kamajaya dewa lambang cinta kasih meninggal di tangan Batara Guru yang berubah wujud menjadi raksasa Rudrapati. Segera mungkin Rudrapati mengingat wanita cantik di alam mimpinya, yang kala itu sempet kenalan dan menyebutkan asal-usulnya. Wanita ini adalah Parwati dari Kahyangan Girimaya putri Hyang Giri. Ya Girimaya, giri artinya gunung, maya artinya samar. Gunung yang samar, gunung bukan sembarang gunung, hanya orang tertentu yang mampu melihatnya dan mengetahui tempat tersebut. Termasuk para Dewa-pun tak sembarangan Dewa bisa sampai ke sana.

Rudrapatipun segera tancap gas, badanya yang serba gedhe, dan yang gedhe pasti dahsyat ya. Tetapi aneh, seperti kapuk yang ringan tanpa berat melesat ke angkasa. Mungkin karena jaman itu belum ada mesin jet, jadi ga bersuara tinggal landasnya. Hanya benturan kakinya saja ketika mau tinggal landas agak membuat bumi berguncang seperti gempa. Bahkan sampai menggetarkan tempat aku duduk, aku kira gempa, eh ternyata Rudrapati tinggal landas.

Anehnya ntu tidak ada suara Jet, namun suaranya kalau ga salah gini:

“Parwatiiiiiiiiiiiiiiiiiii, tunggu kedatangankuuuuuuuuuuuuuu.”

Wah jet jaman dulu beda ya soundnya. Hem, sementara kita tinggalkan Kamajaya yang jadi abu dan ikuti Rudrapati terbang di angkasa. Cewek memang sangat menggilakan kaum Adam ini, tidak manusia, tidak dewa, tidak raksasa, tidak hewan, tidak hantu dan tidak setan-setan lainnya. Pasti nih berusaha sekuat tenaga untuk dapatkan wanita dambakannya.

Di balik megapun Rudrapati menari-nari bagaikan orang gila. Berhubung dia Dewa ya anggap aja Dewa Gila, bukan Dewa 19 loh, lain lagi nanti ceritanya. Kenapa Gila coba saja, dia menari sambil melantunkan lagunya Mulan Jameela yang berjudul “Cinta Mati”. Wah hebat juga dewa raksasa satu ini, suaranya bagai halilintar, terang saja manusia penunggu bumi keributan ada petir di musim kemarau. Hem, lagu pilihannya lagi adalah lagunya almarhum Mbah Surip “Tak Gendhong Kemana-mana”…wah tambah gila lagi itu tariannya si Rudrapati.

Udahlah cape aku dengerin Rudrapati menyanyi, kasihan umat manusia yang kehujanan halilintar. Baiknya lihat situasi di Kahyangan Girimaya. Hem seperti apa ya gambaranya.

Kahyangan Girimaya

Nama bukan sembarang nama, tempat bukan sembarang tempat. Bukan sulap juga bukan sihir, tetapi ini antara ada dan tiada. Jika mampu maka akan mampu, dan jika tidak ya jangan berharap mampu. Tempat keindahan juga ketidak indahan itu berada. Tempat bersenang dan juga bersedih. Apakah itu? Aku juga bingung sendiri menafsirnya. Sebut saja itu Kahyangan Girimaya, tempat angker dan tidak angker, pkoknya dualitas ada di sana. Ada hulu dan hilir, ada naik dan turun, ada keluar dan masuk. Yah, repot-repot, pokoknya bayangin sendiri aja ya plend!

Duduk seorang kakek tua, dia adalah Hyang Giri, dewanya gunung, anehnya wajahnya tidak seperti gunung. Masih kelihatan gantengnya loh. Pasti di masa mudanya kebanyakan cewek ntuh. Sayangnya dia hanya punya seorang anak, bernama Dewi Parwati. Istrinya sudah meninggal setelah melahirkan Parwati, istilah jawanya kunduran. Situasi mati ketika ngeden dan melahirkan, dan karena banyaknya cairan yang berwarna merah di keluarkan.

Dewi Parwati ini sangat moleknya, bibirnya tipis merah merekah. Matanya sipit, rona wajahnya yang menawan. Ditambah rambutnya yang panjang gimbal karena jaman dulu belum ada shampo sunsilk atau shampo-shampo lainnya. Hidungnya agak pesek seperti hidung saya, alisnya tebal, kulitnya kuning langsat. Pokoknya selalu tersungging senyuman di bibirnya. Dari leher ke bawah masih telanjang tanpa busana hingga di atas pusarnya. Ya jaman dulu belum ada Bra atau BH seperti sekarang, belum juga kemben (branya orang jawa). Sedangkan dari perut kebawah mengenakan semacam selendang lebar dan panjang. Yang terbuat dari kain sutra, untung saja itu panjang, kelihatan dari lapisannya ketika dikenakan yang berlapis-lapis sehingga tidak kelihatan isi di dalamnya.

Terserahlah porno aksi di larang, maka tidak saya diskripsikan secara detail. Kalau ingin melihatnya, coba deh meditasi, sebelumnya puasa sehari semalam dengan niatan lihat Dewi Parwati. Hahahahhaha, dijamin deh perutnya keroncongan.

Ayah dan anak itu sedang becanda ria di sebuah taman di pekarangan rumahnya. Sebentar kelihatan tawa Hyang Giri yang terkekeh-kekeh, ini sangat berbahaya. Karena ketawanya ini seperti gemuruhnya lahar dari dalam gunung berapi. Ingat letusan merapi beberapa bulan lalu? Nah itu ketika Hyang Giri sedang batuk, dan saat itu batuknya tergolong batuk biasa alias rutin. Sudah mencilakakan banyak orang kan?

Selang beberapa waktu, tiba-tiba seperti suara kilat menyambar, itulah suara Rudrapati yang bernyanyi. Dewi Parwati dan ayahnya segera memuja daun dan dijadikan menjadi peredam suara. Rudrapati segera meniup dari awan dan menampakkan wajahnya. Raksasa jelmaan dewa inipun sangat meresahkan kehadirannya di Girimaya. Sampai-sampai Hyang Giri ngompol di celana. Sayang belum ada celana, adanya cuma selembar penutup kemaluan yang diikat dengan tali rotan.

“Hahahahahahaha, Hyang Giri, jangan bikin aku ketawa.”

“Luh siapa sih?” tanya Hyang Giri dalam aksen dan nadanya yang khas ketua-tuaan.

“Aku adalah Raksasa penguasa 3 dunia. Kedatanganku ke sini untuk meminang anakmu Parwati. Jabannya harus boleh, kalau ga, maka anakmu akan saya culik.” Jawab Rudrapati

“Heeh,,kamu ntu mau nglamar atau mau menculik? Kalau menculik nanti sore saja, itu biasanya anakku Parwati baru mandi sendirian di Sendang Tirtamaya.” Sarannya Hyang Giri.

“Ayah nih gimana sih, masak dikasih tahu rahasia Parwati.” Sahut Dewi Parwati sambil mencolek pinggul ayahnya.

“Hahahahahahaha, terima kasih. Meskipun saya raksasa, tapi tidak semudah itu menerima berita. Rudrapati sangat tergila-gila sama Parwati, makanya boleh ga boleh anakmu aku minta jadi istriku.”

“Gimana Ndhug, itu raksasa sudah ngiler ma kamu? Lumayan ada yang merawat dan mandikan kamu.”

“Emh, gimana ya Yah. Aku itu anak ayah, sejak kecil ayah yang menjaga dan merawat. Tak pantas aku menolak segala perintah ayah. Baiknya ayah saja yang mengambil keputusan.”

“Jangan banyakan waktu berkhotbah dan diskusi, lebih baik cepat jawab iya atau iya. Gitu aja kok repot, hahahahahahhahahahha.”

“Bukannya repot, ini masalahnya sangat rumit. Kamu raksasa, semua serba besar. Sedangkan anak saya itu cewek mungil, 4 kali lebih kecil dari postur tubuh kamu. Secara psikologi dan biologis, saya merasa kasihan pada anak saya.”

“Hyang Giri, aku ini Dewa Penguasa, bukankah itu suatu kebanggaan tersendiri bagimu.”

“Bangga itu tidak penting, yang penting kamu itu ukurannya tidak sesuai dengan anak saya. Mosok super XL dibandingkan dengan S.”

“Iya bener ayahku, jika kamu bisa kecilin badan, kurusin ntuh badan mungkin ayahku boleh.”

“Hahahahahahahhaha, hah,,,,kalian ini, bagaimana aku bisa kecil kalau selalu dibikin marah. Di bikin muak dengan jawaban kalian.”

Hyang Giripun berbisik kepada anaknya Parwati. Adhuh, aku tak bisa tulis bisikannya, dari jarak aku menonton ga kedengeran. Hem dasar wayang ini suka main curang. Kenapa ya mereka main bisik seenaknya saja. Tiba-tiba Raksasa Rudrapati berteriak keras, dan memaksa mereka untuk menuruti kemauannya. Aku terdiam nih ceritanya. Soalnya bising banget suaranya. Itu raksasa menggunakan kesempatan dalam kesempitan, timingnya kok ya tepat di saat Hyang Giri sedang berbisik. Berhubung sudah panjang nih tulisan, dan udah pagi. Singkatnya, Parwati bernyanyi merdu dan membuat Raksasa itu keasyikan mendengarkan, halusinasinya terbang di sebuah pulau yang indah berdua dengan pujaan hatinya. Lagu itu bagaikan magik yang bisa merubah wujud Rudrapati kembali ke asalnya yaitu Bathara Guru. Hyang Giripun akhirnya mengijinkan mereka menikah, karena ukurannya sudah sama. Pernikahan itu dilakukan singkat sekali, tanpa banyak upacara dan perayaan yang besar. Se usai pernikahan Parwati diboyong ke Kahyangan Suralaya. Tapi sebelumnya Bathara Guru memuja dedaunan dan dijadikan pakaian untuk dikenakan Parwati. Karena Batara Guru tak iklas berbagi kemolekan Parwati dengan para Dewa lainnya. Jadilah seperti gambar browsingan di bawah ini.

 

13103483681453199308

B. Guru dan Parwati

Bersambung

Gambar di ambil dari browsing di Youtube …

Bersambung

 

tulisan sebelumnya

GANESA 1

2 thoughts on “Ganesa 2 (Versi Koclok)

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s