Ganesa 1 (Versi Koclok)

Batara Gana Wayang Kulit

Siapa yang tidak kenal ketenaran dewa yang satu ini, manusia berkepala gajah dialah Ganesa, Dewa ilmu pengetahuan, dan dewa keselamatan. Sepantasnya banyak dipuja di wilayah India, dan bagi teman yang belum tahu dan mengerti Ganesa silahkan klik di sini. Di balik namanya yang tersohor itu, dewa yang satu ini memang sangat dekat di hati umat. Jika kita menganggapnya sebagai simbol pengetahuan, berarti dia sudah menyelinap di tiap opini kita, tiap buku, tiap artikel, tiap kalimat, kata bahkan huruf. Begitu juga nama Ganesa ini dianggap sebagai dewa keselamatan dalam cerita wayang.

Awalnya cerita Suralaya ditinggal pergi oleh penguasanya Batara Guru, lantaran frustasi telah menceraikan istrinya Batari Uma dan mengutuknya menjadi raksasa perempuan bernama Durga. Kenapa dicerai? Karena Uma sering menolak ketika diajak senggama. Berawal dari kasus kelahiran Batara Kala yang terjadi dari kamanya Guru akibat hasratnya tak terpenuhi. Dari sana percecokkan berlanjut hingga persidangan di KUA dan mengakibatkan pasangan ini cerai.

Kepergian Batara Guru ke gunung Maha Meru di pertapan Arga Kaelasa, menyebabkan kahyangan Suralaya kosong, dan sementara keselamatan berada di tangan Batara Indra. Kekacauanpun terjadi ketika seorang raksasa yang bernama Kala Nilarudraka menyerang kahyangan. Penyerangan ini segera tercium oleh para dewa karena para raksasa ini mendirikan sebuah beteng dekat kahyangan yang diberi nama Beteng Senapura. Para Dewa berkumpul di bawah kendali Batara Indra dan segera mereka bergegas mengusir para pembangkang ini. Pertempuran serupun terjadi. Ternyata persiapan para raksasa lebih masak, karena secara strategi mereka menguasai medan, meskipun medan itu adalah masih sekitar Suralaya.

Batara Brahma si raja api segera mengamuk, dia melesat ke udara dan meniupkan lidah apinya, seketika para prajurit raksasa terbakar rambutnya. Sambil bergulingan mereka mengambil batu dan dilemparkan ke Brahma. Tidak kalah seru Batara Bayu yang gagah sedang menari-nari, dan mengeluarkan pusaran angin hebat seperti tornado, membuat para raksasa yang berusaha menyerangnya terpental, bahkan ada yang terhisap masuk dan dilemparkan ke atas, seperti pesat jet meninggalkan bumi kecepatannya. Akupun menonton sambil tepuk tangan dan cengar cengir.

“Hajar terus, ayo maju pantang mundur.” Teriak Senarudraka tangan kanan sang raksasa.  Melihat itu batara Surya segera melesat dari angkasa, seperti matahari hendak menerkam bumi. Untungnya si Raksasa ini pinter pencak silat, sehingga pukulan matahari milik Batara Surya mengenai lahan kosong dan terbakar seketika, api menyulut setinggi 100 meter lebih, wah hebat ya. Aku pun masih mlongo melihat kecanggihan senjata para dewa ini.

“Kurang ajar, berani main belakang ya, dasar dewa itu licik, tak berani beradu muka, nyerang aja pake mengintai. Rasakan ini, hyaaaaatttttttt.” Seketika air keluar deras dari telapaknya Senarudra, sasarannya adalah memadamkan api dan berharap Surya kelepekan kena hantapan badai es yang dia ayunkan. Seketika akupun tepuk tangan, heh “AYO TEPUK TANGANNYA MANA“.

Dari jauh melihat kekacauan yang ditumbulkan oleh Batara Bayu, Si Raksasa raja segera mengambil sebuah batu dan dilemparkan. Anehnya batu itu makin membesar dan semakin mendekat ke Batara Bayu, semakin tambah besar.

Bayu : “Wah gawats nih, bisa-bisa batu itu sampai kesini jadi gunung, oke, lawan ini. HAP. Angin menukik menembus dinding, hyaattt.”

Rudraka: “Ini dewa mau ajakin main sulap ma gue ya,,,oke deh,,,rasakan ini. HARRRR. Samodra batu mencari sela badai, hyattttt.”

Wah tak terbayangkan pokonya, di film-film belum ada ini. Hem komikpun belum menggambarkan. Andaikata holiwood tahu ini pasti sudah jadi film super animasi tingkat tinggi. Udah perangnya di sensor dulu ya, soalnya nih keburu subuh. Singkat cerita, meskipun para Dewa sakti-sakti dan berperang habis-habisan, bahkan bernafaspun susah, tetapi tetap kalah ama kesaktian para raksasa. Dewa-dewa mundur, dan Narada wakil presiden Suralaya segera memerintahkan agar Batara Kamajaya segera membangunkan Batara Guru yang terlelap dalam meditasi. Kamajaya berangkat, dan dewa lainnya segera menutup pintu selamatengkep, supaya para buto ini tidak masuk sembarangan. Najis, kan buto itu kalau pipis di sembarang tempat, mana tidak pernah mandi, terus sukanya makan daging bangkai, bayangin sendiri deh. Keberangkatan Kamajaya ini sebenarnya tidak diijinkan oleh istrinya, tetapi karena tugas mau apalagi, setelah cipika cipiki dan cikem segera Kamajaya berbegas. Kamaratih yang mulanya ijinkanpun, karena rasa sayangnya akhirnya dia menyusul setelah selang beberapa jam, mungkin sekitar 6 jam-an lah.

Gunung Mahameru

Singkat kata singkat cerita nih, Kamajaya sudah sampai di tempat Batara Guru melakukan meditasi di lereng gunung Mahameru. Kamajaya segera mengeluarkan aneka rupa bunga yang baunya wangi menusuk hidung, bunga-bunga itu dengan sendirinya keluar dari telapaknya dan mengelilingi Batara Guru. Wanginya yang menyengat sampai mengeluarkan asap karena berkumpul saking banyaknya, dan asapun masuk ke hidung Batara Guru, masuk ke alam halusinasi.

Sementara itu di alam samadi, Batara Guru serasa bertemu seorang HAWA yang cantik tiada tara, tubuhnya mungil, tinggi rampai, rambutnya panjang terurai, pandangan matanya sayu penuh hasrat. Hidungnya kira-kira pesek ga ya. Aku lupa tanyanya waktu itu, keasikan bayangin HAWA sih,,,yang jelas gadis itu semakin mendekat ke tempat Batara Guru dan pengin dijadikan istri. Belum sampai memeluk gadis itu, batara Guru terganggu aroma terapi, eh aroma bunga yang dikirim oleh Kamajaya, dan halusinasinya hilang. Berang Batara Guru, seperti film-film super hero di Jepang, dia teriakkan “BERUBAHHHHHHHHH“. Seketika tubuhnya membesar, ya Tuhan, matanya menjadi tiga. Hidungya tambah panjang, telinga juga, bibir juga, wajah juga, ukuran badan juga, tangan juga, emh perut juga, emh paha juga tambah gedhe, kaki juga.

“Sepertinya ada yang kelewatan ya”…

Emh, pokoknya Batara Guru berubah jadi raksasa bernama Hyang Rudrapati. Matanya menatap tajam ke Kamajaya, yang tengah menyala seperti api, Kamajaya yang tak menduga akan kejadian tersebut, dia kaget. Dalam kekagetannya ini dia terlambat hitungan kala (1 kala = 144 second kalau ga salah), Mata yang bak bola api itu menghujam tubuhnya, dan Kamajaya-pun sekarang menjadi abu.

BERSAMBUNG,,,

Cerita ini pernah saya poskan di Kompasiana

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s