Tubuh-tubuh Beraksi

Maniratari dalam HAYATI

Tubuh itu meliuk, kadang diam, kadang memberikan isyarat. Bahasa tubuh kadang memang penuh teka-teki, njlimet, kadang tak terduga dan tak terlihat. Bukan basa-basi lagi sebuah pertunjukan tari kontemporer sering dibanjiri pengunjung, karena tari jenis ini memang multi tafsir. Seperti kemarin malam di Teater Arena TBJT Surakarta, sebuah wadah kreatifitas tari yang menamakan dirinya Maniratari mengadakan pertunjukan, dengan mengusung 3 karya sekaligus yang diwadahi dalam tema “Maniratari Melangkah”. Karya itu antara lain adalah “Kembara” karya Wied Sendjayani pendiri sekaligus guru tunggal di Maniratari. Kemudian di sambung karya Ismay Dian W. yang berjudul “Nunggu Bis”. Sedangkan karya ke-3 adalah “Desak” buah karya Siko Setyanto. Karya-karya tersebut tercipta berkat tunjangan dana hibah dari Kelola. Sebelumnya dana hibah ini melalui evaluasi dari team Kelola sendiri.

 

Maniratari

Logo Maniratari

Wadah ini berdiri sejak 3 Desember 1985 di bawah asuhan Ibu Wied Sendjaya (murid W.S. Rendra) yang beralamatkan di Jl. Semeru Barat I No 3 (Ringin Semar), Tegalharjo, Surakarta. Wadah ini untuk pembelajaran seni tari bagi kalangan menengah ke bawah tanpa di pungut biaya sedikitpun. Tidak hanya itu, Wied Sendjaya juga mengajar bahasa Inggris secara gratis. Di tempat ini pula terdapat studio lukis. Sejak kelahiran sampai sekarang banyak sekali tercipta karya-karya baru yang penuh dengan nuansa baru di bidang tari. Di antaranya adalah:

  • Alisah dengan Dunia Ajaibnya (1987)
  • Ukara Ndonya (1988)
  • RaKaTaKaTa (1989)
  • Vignette (1990)
  • Air Mata Bulan (1993)
  • Nanyian Sendja (1997)
  • Ejeg – Eler (1998)
  • Selamat Pagi Bu Sendja (2001)
  • Katakan Lagi Selamat Pagi (2003)
  • Sapuan Langkah Panjang (2005)
  • dan masih banyak lagi [sumber= http://maniratari.wordpress.com)
Maniratari dalam Sapuan Langkah Panjang (Sumber: http://blontankpoer.com)

Kembara

“Balada seorang perempuan yang mencari kebahagiaannya sendiri karena terkucil dan kehilangan orang-orang yang dikasihinya. Meskipun separuh dari hidupnya sudah dikorbankan untuk mereka.” Sinopsis ini mengawali sajian dari tari yang berjudul “Kembara” ini.

Karya Ibu Wied ini secara sajian sangat sederhana. Karya ini lebih menonjolkan pada sisi kolaborasi. Karena pada kesempatan kali ini memang Ibu Wied Sendjaya berkolaborasi dengan seorang penyanyi ternama di sekitar Solo yaitu Endah Laras. Di awal sajian, terdapat pembacaan puisi dan lagu yang di sambung dengan gerak dinamik aritme oleh Wied Sendjaya. Gerakannya mengikuti alunan lagu dengan sebuah permainan ukulelenya Endah Laras. Duet maut ini menampakkan sisi keserasian rasa diantara keduanya, sehingga membuat bengong para penonton.

Seperti di gambarkan di sinopsisnya, memang kebanyakan orang itu memendam kesepian yang terdalam dalam lubuk hatinya. Sehingga ketika kehilanganpun terasa semakin bingung menentukan sikap. Gerakan lunglai tak terarah dan dalam ritme musik tak beraturanpun begitu terasa mewakili.

Nunggu Bis

Judulnya sangat njawani, orang Solo banget. Situasi dan perilaku orang-orang dan calon penumpang di halte bus. Bus yang penuh dan keterlambatan membuat calon penumpang menjadi resah. Keresahan inilah yang diangkat dalam gerak dan semi teater di karya tari ini. Saya sangat senang dengan sajian ini, karena lugas dan mudah di cerna. Mungkin ini dikarenakan Ismay Dian W. ini pertama kali menapakkan kakinya di dunia kontemporer. Gadis berambut krebo yang cantik dan masih jomblo ini mencoba meraba kondisi keresahan para penunggu bus di halte bus.

Setting panggung sangat menyolok dengan keberadaan papan yang bertuliskan halte bus dan slogan Solo Berseri. Apalagi ada tempat duduk dan bak sampah di samping kursinya. Penontonpun dibuat mudah mengimajinasikan tempat. Menariknya karya ini adalah terletak di eksplorasi geraknya. Kadang gerak seperti gerak-gerak biasa, kadang dikasih sentilan gerak halus khas koreo dan kadang gerak rampak. Geraknyapun tidak begitu rumit dipahami, sehingga bagi saya yang awam tari merasa senang. Karena bisa memahami maksud dari si pengkarya. Apalagi ketika ada semacam adegan yang niatnya humor, dengan sangat lega deh penonton tertawa malu-malu.

Desak

“Sadar ….., tetaplah terjaga, apa yang akan mendesakmu hari ini?” Sinopsis tari Desak karya Siko Setyanto. Anak didik Wied Sendjaya juga yang sudah naik daun namanya. Sebelum nulis ini kebetulan aku kenal ceweknya Siko, jadi chating deh, karena saya baru sekali ini melihat Siko menari. Siko sendiri teman di FB, sedikit akrab, pernah ketemu tapi belum sempat berdiskusi panjang lebar.

Desak, ya ntah itu terdesak,mendesak, desakan dan turunan kata lainnya dari kata dasar Desak ini. Saya cenderung menikmati kelenturan tubuh Siko yang menurut saya memang dia sangat keras dalam berlatih. Sehingga paham betul dengan kondisi tubuh dan ruangan. Tarian ini disoroti lampu yang berbentuk lingkaran, dan penari merespon lingkaran tersebut seperti sebuah tempat yang menurut saya sih seperti tempat yang membelenggu, sehingga terasa gerakan tarian yang mencoba keluar dari kekangan tersebut namun senantiasa gagal.

Gerakan penari yang ringan dan terasa tak punya beban ini sangat menggangguku untuk mencari makna sajian. Yang jelas di akhir sajian, penari merasa cape dengan segala perlawananya terhadap belenggu tersebut akhirnya jatuh terkulai. Dalam keadaan kecapean ini penari justru berhasil keluar dari lingkaran tersebut. Nah silahkan teman-teman menginterpretasikan sendiri ya.

Berhubung aku ga punya potret ya ga bisa potret-potret tadi. Foto di atas adalah dari sanggar Maniratari juga dalam karya yang berjudul HAYATI, koreografer Chendra Panatan. Dan berhubung ha ada kategori tari ya terpaksa aku kategorikan hiburan saja.

Sumber Foto: http://chendrapanatan.blogspot.com/

Sumber Logo: http://maniratari.wordpress.com

Tulisan ini juga saya poskan di:

Dumala

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s