Oleh-oleh Dari Yogyakarta

Anak-Anak Beraksi

Yogyakarta Gamelan Festival ke xvi telah berakhir kemarin tanggal 9 Juli 2011. Acara yang di gelar selama 3 malam berturut-turut ini mendapat sambutan dari masyarakat setempat. Penontonpun memenuhi gedung pertunjukkan tersebut, seluruh kursi terisi bahkan tak sedikit yang rela duduk di dekat panggung maupun berdiri dari samping-samping kursi.

Pada hari ketiga, tepatnya tanggal 9 Juli 2011, komutas kami ikut memeriahkan acara tersebut. Kebetulan mendapatkan nomer giliran ke-2. Rencana awal malam itu menampilkan 4 komunitas, sayangnya partisipan dari USA tidak datang, sehingga terpaksa hanya 3 kelompok yang ditampilkan, termasuk komunitas saya.

Pada sajian awal, penonton di suguhi oleh tontonan yang sangat mencairkan suasana. Betapa tidak, penampilan dari kelompok Gamelan Bocah dari Yogyakarta ini memang sangat mengocok perut. Anak-anak kecil seusia SD kelas 2 – 4 ini pandai bermain dagelan versi almarhum Basiyo. Perutpun dikocok habis-habisan, gelak tawa penontonpun tak bisa dibendung lagi, dan gedung gemuruh dengan suara tertawa. Selain itu mereka memang piawa bermain gamelan, lihat saja foto yang saya pasang di atas. Konsep yang di usung Gamelan Bocah ini adalah memperkenalkan gamelan kepada anak-anak. Supaya anak-anak bisa terjun dan tidak merasa sulit ketika bertemu gamelan, maka mereka harus diajak bermain, tidak usah serius, biarkan mereka beraktifitas sesuai dengan jiwa dan dunia mereka. Konsep bermain ini memang sangat kental di sajian mereka, anak-anak terasa tanpa beban dalam menabuh gamelan, sajian gendhingnyapun sangat jenaka dan kekanak-kanakan.

Kami Bermain

Giliran kami menampilkan karya kami. Rasanya malu ketika melihat kreatifitas dan keberanian adik-adik kita ini. Tetapi tidak apa toh sajian yang kami bawakan malam ini memang berbeda. Sesuai dengan rencana kami menampilkan 4 repertoar pada malam itu. Pertama sebagai penggugah rasa, adalah karya kami yang berjudul Memory Negeri, Sebuah lagu kenangan masa lalu, yang berbicara tentang keindahan alam raya di nusantara ini. Peralatan sederhana selalu mewarnai tampilan kami. Jangan dilihat alatnya ya, agak narsis nih, baru saja temanku Dwi Harjanto, memainkan dawai kecapinya, langsung serentak tepuk tangan penonton memenuhi ruangan teater tersebut.

Sajian berikutnya adalah sebuah aransemen ulang lagu dolanan Gambang Suling, rencana sih mau saya ikutkan dalam tulisan ini, tetapi teman-teman belum mengijinkan, karena memang sekarang rawan pembajakan. Tenang, pihak panitia akan menyebar luaskan dalam bentuk kepingan VCD kok. Sajian ketika adalah eksplorasi bunyi yang dihasilkan oleh instrument Gong, duet maut dengan vocal tunggal kami. Sajian ketiga ini bukan lagu atau instrument yang beritme, melainkan bebas dan hanya menampilkan hasil-hasil bunyi. Gong yang kami beri semacap klep kaca, lalu dikasih benang panjang ketika kami tarik benang tersebut, terdapat resonasi dalam gong seperti suara lengkingan manusia. Dan lengkingan ini sesuai dengan nada gong yang kami tarik tersebut.

Sebagai penutup, kami sajikan lagu daerah “Suk-suk Pari Ambruk”, dikalangan petani lagu ini tidak asing. Lagu ini kami aransemen ulang, sebagai tanda berduka kami bagi para petani dimana panen raya tahun ini mengalami banyak yang mengalami kegagalan. Suk-suk (di desak-desak) Pari (padi), sedangkan ambruk (tumbang). Ketika semakin dipicu kekuatan tanah dan sumber alam, maka hanya wereng dan malapetaka yang akan datang. Begitu reinterpretasi karya ini.

Mandi Laras dalam Aksinya

Sebagai penutup acara malam itu, Kelompok Mandi Laras dari Pamekasan Madura, mencoba membombastis para penonton dengan permainan perkusi mereka. Aneka Drum yang dikasih ban, terbang, kendang, kenthongan, saron, menyatu dalam sajian rampak dan ritme yang cepat. Sehingga penontonpun histeris sambil berjoged ria. Ada lebih dari 7 repertoar lagu yang mereka suguhkan, penontonpun berhamburan mendekat ke panggung sambil berjoged-joged. Panitiapun meluapkan kegembiraan mereka karena acara telah selesai dengan sangat menyenangan, sembari bergoyang dengan para penonton.

Juga saya muat di:

http://dumalana.com/2011/07/16/oleh-oleh-dari-yogyakarta/

http://hiburan.kompasiana.com/musik/2011/07/16/oleh-oleh-dari-yogyakarta/

Semua Foto saya peroleh dari

http://jogjanews.com/2011/07/11/berita-foto-yogyakarta-gamelan-festival-ygf-2011-hari-ketiga/

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s