Perang Kembang

Buta adalah nama lain dari raksasa, dasanamanya adalah ditya, diyu, danawa dan masih banyak lagi sebutan untuk buta ini. Kalau di dunia perkenthiran bisa dikatakan buta itu perempuan karena tidak ada pakto. Raksasa dalam dunia wayang biasanya paling sering muncul di setiap lakon apapun. Karena pembabagan dalam pertunjukan wayang itu ada 3 yang disebut denngan pathet. Babag 1 dinamakan pathet nem, di wilayah ini adalah tahap pengenalan masalah dan tokoh wayang. Babag 2 adalah pathet 9, sedangkan bagian ketiga adalah pathet manyura.

Pathet nem, awal cerita mengenalkan persoalan masalah, pathet 9 adalah perenungan masalah dan berusaha mencari jalan keluar. Pathet manyura adalah penyelesaian masalah. Biasanya jaman dulu pertunjukan wayang ini diakhiri dengan pertunjukan wayang golek bagi masyarakat Jawa Tengah. Maksudnya adalah inti sari dari pertunjukkan itu tolong digoleki (dicari) dan pencarian itu bebas dan demokratis adanya, tidak harus sewarna, boleh seperti pelangi atau warna apapun.

Pada bagian pathet 9 atau babak ke2 itulah biasanya terdapat adegan perang kembang (perang sekar), maksudnya perangnya tujuan dan berbagai godaan. Godaan ini digambarkan keberadaan 5 raksasa yang diketuai oleh buta cakil. Buta cakil ini lambang pikiran kita yang begitu gesit, sehingga gerakan cakil di pertunjukan wayang ini paling sulit dilakukan oleh para dalang. Sedangkan ke-4 raksasa lainnya adalah simbol dari nafsu-nafsu yang sering disebut nafsu patang perkara (nafsu 4 macam). Peperangan ini dimenangkan oleh ksatria, pertanda bahwa tidak mingkuh atau tidak tergoda oleh pikiran dan empat macam nafsu. Adegan perang kembang ini selalu ada di lakon atau cerita apapun. Sampai-sampai di Jepang sering menanggap dalang dari Indonesia hanya untuk fragmen cakilan atau perang kembang ini.

 

Perang Kembang

Karakter raksasa adalah buteng, betah nganiaya. Maksudnya sering bikin kita stres, dan mudah terpuruk dalam kebimbangan. Bahkan sukanya menganiaya diri sendiri, akibatnya kalau tidak teguh adalah berujung pada penyesalan. Cakil yang gesit analogi pikiranpun sebenarnya harus disingkirkan, maksudnya tetap fokus dalam satu titik tujuan, supaya tidak kecewa di kemudian hari. Cakil mati karena tertusuk senjatanya sendiri, artinya seperti caraka balik atau kembalikan semua pertanyaan otak ke asalnya, jangan kita hakimi dengan otak atau pemikiran juga. Sedangkan keempat raksasa ini matinya di panah ksatria. Analogi panah adalah ketenangan pikiran yang telah kalah, dan cipta kita tertuju satu titik, katakan tidak untuk semua gangguan, wal hasil raksasapun keok.

Selamat pagi dan semoga bermanfaat, mari kembali bangkit dengan niat baru, dan langkah baru, jangan mudah menoleh ke kanan, kiri, depan dan belakang, tetap berjalan seperti satria yang berjalannya dihitungi maju kedepan dan tatapnya jelas ke depan. Dan cepatnya seperti larinya busur ksatria yang bener-bener mujarab. Untuk melihat bagaimana kiprah dalang dalam memainkan perang kembang, saya yakin banyak ketika browsing, kalau koleksi saya pribadi belum saya upload. Selamat browsing.

Iklan

tolong masukannya yah

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s