Bagindapun Terseok

teguhrahardjo.blogspot.comMasih ingat dengan cerita Prabu Baka dalam dunia pewayangan? Itu lho seorang raja raksasa yang memimpin kerajaan Ekacakra. Yang gemar makan daging manusia, dan anehnya maunya daging rakyatnya sendiri, alias kaum Ekacakra juga. Kebiasaan makan daging manusia ini dimulai sejak juru masak istana yang secara tidak sengaja, jarinya terpotong dan tercampur dalam sayuran. Wal hasil, hidangan makan malam sang Rajapun terasa lebih lezat, dan Sang Juru masakpun dipanggilnya. Sang koki kerajaan ini awalnya takut, sambil gemetaran dia terpaksa menghadap. Eh ternyata setelah menghadap di kasih hadiah dan ditanya apa resep masakan malam itu. Dan rahasia terbongkar, sejak saat itu Baginda minta makan dengan lauk daging manusia.

Awalnya cuma satu jari, hari berikutnya minta tambah lebih dan lebih dan lebih. Ntah berapa tambahan lebih sehingga dalam sehari sang Baginda minta di sediakan daging manusia, minimal paha. Saking ketagihannya, Sang Baginda lama-lama tidak mau daging yang dimasak, tetapi lebih senang makan langsung. Dengan mengadakan duel secara langsung dengan si calon korban. Bayangkan manusia raksasa setinggi 8 meteran atau lebih (soalnya ukuran pastinya aku juga kurang tahu) musuh rakyat kecil yang maksimal tingginya 2 meter. Pukulannya hanya membuat sang Baginda tertawa, dan sambil menarik tangan jahil itu sampai putus dan dimakannya. Sehari hanya tangan, akhirnya sang bagindapun mampu memecahkan rekor dunia saat itu, dengan memangsa manusia di tiap harinya.

Tiba saatnya giliran Ijrapa, seorang demang di Ekacakra memberikan jatah makanan kepada Baginda raja. Tetapi karena situasi yang belum beruntung, membuat demang ini berpikir tempo cepat dan selalu berdalih, minta waktu untuk mencari yang sesuai dengan selera baginda. Terang saja waktu semakin molor, karena satu persatu rakyat Manahilang di bawah kekuasaan Demang Ijrapa ini pergi meninggalkan desanya. Karena takut dijadikan makanan sang Baginda. Seminggu sudah terlewati, Sang Bagindapun semakin marah dengan ulah Ijrapa ini. Hingga suatu malam Ijapra di datangi rombongan tamu yang kelaparan, yaitu Pandawa dan Kunthi beserta Punakawannya. Sebagai balas budi Pandawa menyerahkan Bima yang perkasa sebagai lauk sang Baginda. Bima dengan tinggi sekitar 7 meter (mungkin.com) yang hampir seimbang dengan sang Baginda, sepertinya layak menggantikan nafsu makan manusianya yang sudah 7 hari tertunda.

Tanpa di sadari Baginda, rupanya Bima ini merupakan ancaman sendiri bagi baginda. Kenapa tidak, seperti biasa baginda sebelum makan santapannya harus berduel dengan calon korban. Dan sekarang korban kelihatan lebih besar dari biasanya, hampir sama dengan sang Baginda, kuat dan tinggi. Duel terjadi, baku hantam, saling menendang, saling menghindar. Sayangnya baginda selama 7 hari puasa, sehingga tenaganya lemas, dengan mudah Bimapun mampu menancapkan kuku pancanakanya ke lambung Baginda, dan merobeknya sambil menarik segala isi yang ada di dalam perut tersebut. Darah muncrat, Bima selasa mandi darah. Badannya berlumuran darah segar raksasa tersebut. Kini Baginda penguasa tunggal negara Ekacakra telah mati, rebah memenuhi bumi, bagaikan phon raksasa yang jatuh, gemuruh suaranya. Sorak sorai seluruh rakyat Ekacakra, menyambut kemenangan Bima. Selanjutnya kekuasaan Ekacakra diberikan kepada Rawan putra satu-satunya Ijapra yang masih muda belia.

Sepenggal kisah yang saya suka dari perjalanan Pandawa seusai Bale Si Gala-gala. Cerita ini bertutur kepahlawan, juga kekuasaan. Saya analogikan makanan daging manusia itu dengan korupsi atau lebih luas KKN. Saya rasa tradisi korupsi atau KKN ini juga tidak mungkin ada begitu saja, pasti melalui tahap yang panjang. Sama kasusnya Raja Baka yang makan dari sedikit, dan akhirnya jadi sebuah kegemaran dan kecanduan. Negara ini sudah merasa kecanduan dengan korupsi dan KKN, dan candu ini akan mematikan sistem itu sendiri. Sebagaimana Bima mengeluarkan segala isi perut Prabu Baka. Bagaimana nantinya? Alloh sendiri yang tahu, kita hanya bisa meraba, dan berharap datangnya seorang satria seperti sosok Bima. Yang sama kekuatan dengan Baka, dan akhirnya memenangkan peperangan. Mungkin bukan perang fisik, tetapi perang ideologi. Kenapa saya bisa kecanduan korupsi, lihat saja, para penguasa sibuk bikin acara yang sifatnya bisa mengeruk keuntungan dari proyek tersebut. Pembangunan gedung DPR ditangguhkan, berarti menanti saat yang tepat bagi mereka. Melancong ke luar negeri juga demikian. Korupsi itu sudah jadi candu bagi mereka. Bukan hanya sekarang mungkin mereka korup, tetapi sejak kecil atau sejak usia dini. Bukankah sistem jadul gok menyogok itu sudah ada sejak dari dulu, di desa dan di kota, dari lahir bikin surat kelahiran saja sudah asok bulu bekti, alias mbayar pak Bayan atau carik desa untuk selembar surat kelahiran…Mendarah dan mendaging,,,akhirnya akan meluap dan menghancurkan. Akhir-akhir ini banyak bermunculan para nasionalis-nasionalis (semoga benar) dan ulamapun menggembor-gemborkan untuk jihad. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi peristiwa besar pembedahan perut Baginda. Dan jika memang demikian, mari kita sambut dengan kepercayaan masing-masing, dan yang jelas tetap dalam kebersamaan di bawah naungan Bhineka Tunggal Ika, meskipun kita berbeda pendapat, semoga perbedaan ini justru bukan kendala untuk membangun kebersamaan, demi bangsa dan negara. Semoga bermanfaat.

2 thoughts on “Bagindapun Terseok

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s