Pentas Jlitheng Dibayangi Ancaman

JOGLOSEMAR 07 Juni 2011

SUKOHARJO—Bayang-bayangan hambatan pentas kembali dialami dalang Wayang Kampung Sebelah, Ki Jlitheng Suparman. Pentas di Sanggar Marsini, Desa Kwarasan, Kecamatan Baki, Sukoharjo tanggal 18 Juni mendatang diindokan akan diusik lagi, seperti halnya pentas di Semanggi Solo pekan lalu.

Jlitheng, semalam kepada Joglosemar mengatakan, dia mendapat pemberitahuan dari awak Sanggar Marsini yang menanggapnya. “Kabarnya, polisi menanyakan apa benar saya akan pentas, dan mengabarkan ada ancaman keamanan dalam pentas tersebut,” ujarnya.

Kabar itu, dikonfirmasi oleh Eko Joyo, awak Sanggar Marsini yang dihubungi Joglosemar via telepon. Dia membenarkan, aparat Polsek Baki menyampaikan informasi intelijen bahwa pentas Jlitheng diancam oleh kelompok yang dulu sempat membubarkan pentasnya di Semanggi, Jumat (27/5) lalu.

“Kata polisi, Jlitheng akan diburu jika pentas ke mana pun, karena dia menunjukkan sikap melawan kelompok tersebut dengan mengadakan aksi unjuk rasa, melapor ke polisi dan berbicara ke media massa,” ujar Eko.

Polisi, menurut Eko, memang tidak melarang Jlitheng mengadakan pentas. Justru, dengan adanya ancaman seperti itu, polisi siap melakukan penjagaan dengan kekuatan yang lebih memadai.

Eko pun menganggap informasi dari Polsek layak dihargai dan dipertimbangkan. “Ini kami sedang mencari solusi terbaik. Mungkin sekali kami akan memajukan waktu pentas atau menundanya sepekan. Bukan apa-apa, tapi rencana pentas tanggal 18, berhimpitan dengan pemilihan kepala desa esok harinya. Supaya sama-sama enak, mungkin mundur sepekan saya kira tidak ada masalah,” imbuhnya.

Kapolsek Baki, AKP Misran juga menegaskan, polisi tidak akan menghambat pentas seni, termasuk Wayang Kampung Sebelah. Melalui pesan pendek di telepon seluler, dia menegaskan sejauh ini tidak ada alasan untuk melarang pentas seni, sejauh dilakukan dengan menempuh prosedur perizinan yang benar dan pelaksanaannya tidak mengganggu ketertiban.

Sambutan Positif
Mengenai ancaman tersebut, Jlitheng menambahkan, dirinya yakin tidak akan ada permasalahan dengan warga setempat. Pasalnya, dua bulan lalu dirinya pernah pentas di tempat yang sama dan mendapat sambutan positif dari masyarakat.

“Wayang Kampung Sebelah menyebarkan kebaikan, bertujuan baik, meski itu banyak dikemas dalam kritik sosial. Kami tidak mencari musuh, juga tidak memusuhi siapa pun. Beberapa waktu lalu saya justru dihubungi seseorang, katanya kelompok yang dulu membubarkan pentas saya itu justru ingin berdialog. Kok sekarang ada kabar ancaman lagi?” katanya.

Menanggapi fenomena ancaman kepada seniman, Ketua Presidium Front Penegak Pancasila di Solo, Setyawan mengatakan, seluruh elemen masyarakat seharusnya menghargai dan menjauhkan budayawan dari segala bentuk konflik. “Khususnya aparat keamanan, adalah kewajiban mereka untuk menjamin hak-hak sipil melakukan beraktivitas dengan tenang,” ujarnya. n Muhammad Ismail | Ari Kristyono

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s