Kegalauan Budayawan Butuh Jawaban

JOGLOSEMAR 05 Juni 2011

Sebuah isyarat keresahan dari para budayawan, justru muncul di Kota Solo yang merupakan salah satu kota budaya di republik ini. Kecemasan sudah lama meriak dalam bisik-bisik lirih, nyaris tak terdengar, hingga pecah bagai bisul yang lama tersimpan.
Kecemasan itu pernah mengemuka ketika pemerintah mencanangkan rancangan undang-undang antipornoaksi dan pornografi, yang kemudian menuai polemik pro dan kontra, lalu disahkan sebagai UU Nomor 4/2008.

Hingga kini belum banyak perkara hukum yang diputus dengan undang-undang tersebut. Namun, sejak itu, di lapisan publik, pro kontra sebelumnya telah menumbuhkan lumut ketakutan dan kecurigaan antara kelompok budaya dengan kelompok agama. Seolah keduanya adalah berseberangan.

Sejak itu, muncullah fenomena aneh. Penari gambyong di beberapa acara, terlihat masih berbusana kemben, tapi dengan tambahan baju kaus lengan panjang, karena mereka takut dianggap porno. Beberapa event budaya, terutama yang menyangkut ritual bersih desa atau ruwatan, terhenti atau dihentikan. Dan insiden terakhir, ketika pentas Wayang Kampung Sebelah Ki Jlitheng Suparman, dihentikan saat pentas di Semanggi, Solo.

Aktivitas budaya, sungguh tak sepantasnya dimusuhi. Keduanya sama-sama merupakan rahmat Tuhan yang memuliakan manusia di atas makhluk lainnya. Sedangkan budayawan juga bagian dari masyarakat yang punya hak dan kewajiban sama. Jika dia dianggap mencederai salah satu hukum atau norma yang berlaku, selalu ada lembaga dan perangkat formal untuk melakukan koreksi atau tindakan.

Karena menyangkut rasa aman dan ketertiban umum, rasanya kita pantas berharap banyak pada aparat Polri. Rasanya, tidak akan ada pentas seni yang bisa dibubarkan, jika penyelenggaraannya diamankan dengan baik. Kehadiran polisi bisa mencegah penyimpangan yang bisa menyertai sebuah pentas, misalnya penonton yang mabuk di muka umum atau berjudi. Tapi sekaligus juga bisa menjamin pentas berjalan dengan aman hingga usai.

Jaminan seperti itu diperlukan, agar budayawan tak lagi ketakutan berkarya. Sebuah peran penting, karena masyarakat yang kering siraman budaya, akan menjadi masyarakat yang sakit dan kehilangan identitas. Jangan sampai, aparat Polri justru semakin mempersulit perizinan pentas seni demi alasan risiko ketertiban. Kalau itu terjadi, rasanya kita akan mundur jauh ke era sebelum reformasi.

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s