Samba Juwing

Cinta, sayang, suka itu salah satu sumber derita lepas percaya ataupun tidak. Namun dalam tataran tertentu cinta dianggap suci, dan saya pribadi belum mampu membicarakan apa itu cinta suci, karena cintaku masih bau kencur, kenal, santap langsung kabur.

Itulah sebabnya mengapa kata cinta memenuhi ruang publik, bahkan dikompasiana ini juga banyak yang membicarakan cinta, baik berupa cerita, artikel, ataupun puisi. Ntah dulu siapa yang buat dan menemukan kata cinta ini, sampai sekarangpun saya sendiri belum tahu, dan belum berucap terima kasih, karena kata tersebut telah menginspirasi banyak orang. Cerita cinta dari yang tragedi, romantis bahkan tragispun telah disuguhkan bagi kita. Siapa yang tidak kenal cerita Romeo Juliet, dan bagi orang jawa siapa yang tak kenal dengan dongeng Roro Jonggrang, Joko Tarub dan lain sebagainya. Tiap daerah memiliki cerita-cerita roman, maupun tragedi yang berhubungan dengan cinta ini. Sejenak saya ajak melancong ke dunia wayang, tentang percintaan Samba, bagi saya cerita ini sangat menarik sekali, karena sampai mengorbankan persaudaraan. Benarkah Samba salah satu pecinta sejati? Atau sebatas pengejar HAWA nafsu?

Diceritakan dalam dunia pewayangan, Samba adalah anak dari Krisna, dia punya kakang laki-laki yang bernama Bomanarakasura. Boma punya istri 2 yaitu Hagnyawati dan Yadnyagini, singkat cerita, Samba ternyata terpesona juga dengan salah satu istri kakaknya ini, yaitu Dewi Yadnyagini. Sebenarnya sih pada awalnya cerita, Yadnyagini ini tergolong wanita yang dibohongi, karena termasuk anak dari salah satu negara bagian dari negara yang dipimpin oleh Bomanarakasura. Berharap bisa ketemu Samba, Yadnyagini berkenan di boyong ke kerajaan Trajutrisna milik Boma. Tetapi apa boleh buat, ternyata Boma termasuk cowok dan pemimpin yang suka perempuan, jadi Yadnyaginipun dinikahinya. Pada pesta perkawinan tersebut datanglah Samba dan pada saat itulah, Samba merasakah ada cinta dihatinya, berhasrat kepada Yadnyagini, begitu juga dengan si ceweknya nih. Malam pertamapun terpaksa batal karena Yadnyagini belum berkenan menuruti kehendak suaminya.

Hari-hari bertambah hari, Samba makin terkekang oleh hasrat dan cintanya semakin bersemi, akhirnya dia bersikukuh untuk melarikan Yadnyagini dari Trajutrisna. Samba meminta tolong kepada Batari Wilutama untuk membantu niatnya, Wilutama sanggup membantu asal Samba jangan sampai menengok kebelakan selama berjalan menuju kamar Yadnyawati. Samba setuju, alkisah tiba-tiba munculah sebuah terowongan yang terang benderang, Sambapun mulai menelusuri lorong itu. Sampai di peraduan Yadnyawati, Sambapun iseng mencari sumber cahaya, dan diapun menengok kebelakang, ternyata sumber cahaya itu berasal dari tubuh Wilutama yang telanjang bulat tanpa sehelai kainpun. Samba berdetak jantungnya dan seketika hasratnya menginginkan kemolekan tubuh Bidadari tersebut, murkalah Wilutama dan dikutuk, besok kematian Samba tidak normal manusia.

Kegilaan Samba terhadap tubuh Wilutama tersimpan karena sekarang, dia sudah mendapatkan Yadnyawati. Langsung mereka melepas rindu, dan Samba merenggut keperawanan Yadnyawati, bagaikan kombang yang kehausan, Sambapun menghisap habis sarinya bunga Yadnyawati. Kejadian ini diketahui oleh Boma, dan murkalah Boma. Samba segera membawa lari Yadnyawati ke Dwarawati guna mencari perlindungan.

Sesampainya di istana kedatangan Samba disambut ayahnya. Alangkah sedih hati Krisna saat itu, tanpa basa-basi, Sambapun diusir dari Istana. Di tengah jalan ketemu dengan Boma dan Samba dihajar habis-habisan, kalau jaman sekarang seperti mutilasi, tetapi ini lebih kejam, karena tiap bagian tubuhnya dipatah-patah menjadi beberapa bagian, dan Samba hanya tinggal puing-puing yang berwarna merah penuh darah. Krisna melihat itu tidak tega dan seketika melepaskan Cakra ke tubuh Boma anaknya sendiri. Mati pula si Boma. Adhuh ini tragedi keluarga yang sangat amat menyedihkan yang bermuara pada kata CINTA ya.

Begitulah kisah Samba sang pecinta, yang berusaha mendapatkan cintanya. Setelah dapat karena juga keteledorannya sendiri dan pada akhirnya mendapatkan kematian. Benarkah cinta itu kodrat yang sering diucapkan dengan kata “kalau jodoh” di lingkungan masyarakat. Kisah Samba ini adalah bukti betapa banyaknya jalan guna mendapatkan cinta itu sendiri, dan betapa cinta tidak memandang apapun. Ketika hati terpaut maka tinggalah menjalankan usaha guna mencapainya. Mungkin, karena saya sendiri sampai sekarang juga belum mendapatkan cinta. Semoga yang sedikit ini berkenan bagi teman-teman.

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s