Masa Depan Wayang

Mahasiswa peminat seni pedalangan makin berkurang lagi, setelah kasus menimpa ISI di Jogja kini merambah ke ISI Solo, berita selengkapnya klik di sini. Peristiwa seperti ini sebenarnya sudah terjadi sekitar 30-an tahun yang lalu. Namun kesadaran untuk berbenah belum ada, maaf sebelumnya. Tetapi itu memang kenyataan. Saya pernah kuliah di jurusan itu, sebelum masuk dulu memang bermimpi ingin masuk jurusan pedalangan ini. Kelihatan wah dan sangat membanggakan, memang sangat membanggakan sebenarnya, tetapi juga terhitung sangat kolot, hanya sebagian kecil yang mau mengembangkan diri. Terutama mahasiswanya sangat prinsipil sekali, merasa dirinya sudah dalang. Untung aku bukan dari keluarga seniman dalang, jadi insting ndesaku masih nempel. Akibatnya bergaul sama siapapun dan jurusan apapun aku bisa, bukannya sombong lho. Coba sekarang dilihat, apakah para mahasiswa jurusan pedalangan mau bergaul dengan jurusan lain, sekedar untuk berproses atau sekedar iseng jagongan? Bahkan cenderung proses mahasiswa pedalangan sangat berkurang, seingat saya hanya Blacius Subono yang getol mengajak mahasiswa berproses, itupun sebagai niyaga, dan jarang berproses untuk peningkatan mahasiswanya dalam bidang olah sastra. Belum lagi soal hubungan sosial, seharusnya diadakan survey lapangan, terjun ke masyarakat, mengetahui seluk beluk masyarakat dan lain sebagainya supaya karya mereka bisa digunakan dan dipahami oleh masyarakat. Jangan terlalu jauh berharap untuk jadi dalang, jadi manusia pendengar saja susah kok. Betul ga? Orientasi mahasiswa sekarang adalah payu, laku dan paling menonjol adalah uang. Kalau ingin berbisnis kuliah saja di fakultas ekonomi. Memang menegemen itu penting dalam sebuah komunitas seni, supaya tidak ada yang dirugikan, tetapi tidak monoton jadi orientasi utama. Jare golek jeneng sik lagi golek jenang. Lha kok kesusu golek jenang, jenenge tiba keri? Hem…

Dihitung perkembangan, sebenarnya sudah banyak yang dikembangkan oleh kampus saya yang tercinta ini (tapi maaf aku ga lulus lho). Pertanyaannya perkembangan yang bagaimana, kok masyarakat sampai tidak tahu, toh hanya beberapa gelintir lapisan masyarakat yang mengetahui, terus apa fungsi sebuah lembaga pendidikan seni tersebut? Kalau memang sebuah lembaga pendidikan itu fungsinya kan sebagai laboratorium untuk masyarakat, bukan labnya orang-orang yang punya kepentingan. Seperti Sandosa, dengan bahasa yang masih tinggi? mampukah masyarakat luas mencernanya? Pakeliran Padat, juga dengan pertunjukan yang nggekeng, mampukan masyarakat menerimanya? Saya teringat tahun 2008, Bli Sadra pernah menanggapi sebuah komposisi musik karya mahasiswa karawitan yang memang sangat bagus, dia hanya bilang: “Karya anda ini bagus, lalu bagaimana anda bisa mengaplikasi karya anda ini supaya dipahami oleh masyarakat luas?” Aku mengakui memang karya-karya itu luar biasa, dan saking luar biasanya, jempol saya yang 2 tidak cukup. Menurut saya pribadi, sebuah lembaga pendidikan khususnya seni yang berhubungan erat dengan masyarakat itu kan seharusnya menciptakan sebuah kreasi baru yang bisa diamini dan dinikmati oleh masyarakatnya, bukan untuk kalangan seniman. Art for art, dan seni untuk masyarakat, dua buah kubu yang akhir-akhir ini hanya satu kubu yang diperhatikan. Memang seni memandang tempat pentas, tetapi jangan lupa bahwa seni itu untuk dinikmati oleh orang banyak, dan bukan segelintir orang.

Jadi orientasi sebuah perkembangan memang harus masyarakat, lapisan bawah, bukan bawah sadar lho, nek bawah sadar dadine kenthir. Lapisan bawah maksudnya adalah lapisan masyarakat yang miskinlah paling enggak. Banyak kan masyarakat yang bilang sudah tidak paham dengan bahasa pedalangan, kenapa harus nggekeng, fleksibel saja, tujuan kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sekedar untuk pamer, wah aku apal janturan dan lain sebagainya. Durung berbicara soal kejenuhan lainnya, seperti unsur musikalnya yang bisa bikin ngantuk. Hematnya, kalau ingin masyarakat antosias nonton wayang lagi, ya kita harus mendekatkan diri kita, mendekatkan seni pertunjukan wayang kepada masyarkat, jangan menjauh. Kondisine beda Baang, masyarakate wis beda, akeh tontonan instan yang lebih menarik perhatian mereka. Mari kita mengenal masyarkat kita supaya wayang di masa depan tetap menjadi kebanggaan bersama. Amin.


tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s