Perbudakan Niyogo

Managemen dalam kesenian tradisi entah itu pertunjukan wayang atau konser karawitan atau tari, yang berkembang sekarang adalah managemen perbudakan. Maaf, saya sudah muak dengan situasi ini, karena ini sudah menjamur dari jaman dahulu dan hingga sekarang, atau mungkin jaman dahulu lebih mendingan dibandingkan dengan jaman sekarang. Karena jaman dahulu, yaga itu seperti nyantrik (belajar) ditempat dalang yang tiap harinya berada dan bergaul dengan dalang, sehingga mendapatkan fasilitas makan, tempat tidur dan bahkan kalau dalangnya blaba (murah hati) mendapatkan pakaian. Kalau jaman sekarang? Sistem nyantrik ini sudah tidak ada, mungkin ada dibeberapa tempat dalang, tetapi para cantrik sekarang tidak nabuh, mereka hanya belajar mendalang. Jadi saya tegaskan tolong nasib mereka jangan disamakan dengan mbah-mbah jaman dahulu. Pertimbangannya berbeda, mbah dahulu mbayar murah karena mereka masih memberikan fasilitas, tetapi sekarang apa bentuk fasilitasnya? Paling menyedihkan kadang ada latihan saja tidak ada konsumsi, sungguh tragis nasib niyaga (musisi) kita.

Ini Penindasan

Memang belum ada undang-undang yang berbicara tentang hak seorang seniman tradisi khususnya niyaga. Berhubung tidak ada, seharusnya pertimbangannya adalah secara moralitas. Bukankah kita ini negara bermoral, negara yang mengakui hak-hak asasi manusia. Nah pertimbangkan itu. Apa hak paling asasi manusia? Tak lain adalah sandang, pangan, papan dan pekerjaan. Ketika para dalang memperkerjakan para niyaganya apa pertimbangannya? Haknya juga kan? Gajilah mereka sesuai dengan haknya, jangan dimonopoli uangnya. Jadinya kan dalangnya kayaraya,  niyogonya mati kaliren. Maaf. Kalau begitu apakah tidak disebut sebagai penindasan?

Ingat, bukan karena para dalang yang mendapat tanggapan, atau memiliki fasilitas dan yang bekerja lebih berat. Tetapi dalang TANPA YOGO bisa apa? Itu pertanyaan yang wajib digaris bawahi dan pikir secara masak. Kalau sudah demikian kan tinggal presentasi saja, sewa gamelan berapa persen, sewa transportasi berapa persen, dalang minta jatah berapa persen, nah niyaganya baru dihitung mendapat berapa persen. Jangan asal main bayar ala kadarnya, alesane pijer sambatan.

Tugas Niyaga

Tugas niyaga adalah nabuh gamelan, jangan dipikir mereka tidak mengeluarkan energi seperti seorang dalang. Mereka juga banyak mengeluarkan energi, nabuh itu tidak sembarangan orang bisa. Butuh latihan, butuh dedikasi, butuh permainan rasa baik dalam pertunjukan wayang, tari terlebih dalam konser karawitan. Mereka butuh konsentrasi juga dalam bekerja. Jadi mereka bukan anak buah, tetapi mereka partner kerja, rekan anda dalam berkesenian, tolong hargai mereka. Dan untuk teman-teman niyaga saya menghimbau untuk menuntut haknya, jangan asal ngawula. Ini sistem kapitalis, mana yang punya modal dia yang berwenang untuk sewenang-wenang, hargai dirimu sebagai manusia yang memiliki kemampuan (talenta). Kalau niyaganya saja sudah tidak berusaha untuk menghargai kerjanya, apa guna diperjuangkan, jangan salahkan kalau dalang, lurah yaga, atau juragan gamelan mempermainkan anda.

Managemen

Untuk urusan managerial ini biasanya bagi kalangan seniman tradisi dirasa tabu dan saru, “wong dhuit kok nggo ukuran seni” katanya. Tetapi ketika ada pihak yang tertindas, dan ada pihak yang memonopoli bukankah hal ini harus dibicarakan, dan harus menjadi sorotan? Ironis memang sejak jaman dahulu belum ada kemauan atau jalan tengah untuk menyelesaikan urusan ini. Setahu saya di daerah pedesaanpun sistem monopoli penghasilan ini masih saja berlangsung, yang punya gamelan (kalau konser karawitan), atau seorang dalang (dalam pertunjukan wayang) selalu mendapatkan lebih dari 50% totalitas penghasilan sebuah pertunjukan. Sepantasnyalah mulai saat ini seorang dalang atau juragan gamelan serta lurah niyaga, harus punya jiwa memperjuangkan hak rekan kerjanya. Persemakmuran harus diadakan, kalau tidak mampu melakukannya sendiri bentuklah sebuah managerial, tukang ngurusi dhuit. Dan mulailah terbuka dengan teman anda, niscaya wayangan harga murahpun bisa jalan. Cara menghitungnya gampang kok, tinggal main presentasi saja, Dalang atau juragan gamelan minta jatah berapa persen dari total penghasilan. Yang penting tidak 50% lebih, atau kalau bisa hanya 20-25% dari total penghasilan itu sudah lumayan kok, kalau melebih itu berarti mateni panguripane yaga. Bukankah dalam agama juga diajarkan, jangan sampai mengambil laba lebih dari 5% dari harga pembelian. Karena kalau melebihi itu hukumnya sudah haram. He he he he.

Sekedar ilustrasi

Pernah saya dulu nyantrik di tempat Pak Joko Raharjo di Kartosura, dia tidak pernah memonopoli. Wayangan dengan harga 1,5 juta pun berangkat, dan uang diserahkan kepada ketua niyaga supaya dibagi, dia hanya menerima saja pemberian yang diberikan oleh ketua niyaga (lurah yaga). Sampai sekarang masih hidup kalau tidak percaya silahkan tanya sendiri.

4 thoughts on “Perbudakan Niyogo

  1. ingat bung! dalang adalah seorang pemegang kendali atas perusahaanya. dalang mengemas “cerita” sejak jauh sebelum terjadi nego dengan calon penanggap. ketika ada penanggap, dia sendiri yang mentukan harga, lalu dia sendiri yang berhak menentukan harga untuk para niyaganya…jadi bagi dia ini adalah bagian dari managemen perdalangan dan tidak pernah merasa bahwa dirinya menganiaya atau menindas. kalau menurut saya, kapan niyaga dan dalang bisa membangun sebuah managemen yang dilandasi atas kerja sama yang kuat. itu pasti ada solusi

    • Ok, berarti tergantung kedua belah pihak, sementara enek juga to dalang sik memeneg, tetapi menegere yo mung melu thok ga punya kekuasaan untuk berbuat.

  2. Teliti sebelum berbunyi… Dalang sembada untuk bermental juragan. Niyaga layak tercampak karena memang bermental budak, malas berpikir, maunya terima order langsung parkir, bareng nampa sethithik cengar-cengir. Dalang adalah perpaduan intelektualitas, leadership, dan manajemen, maka layak kalau jauh lebih mahal harganya… piye, jal?

    • Dibiarkan waelah mas,,hehehehehe,,,seharusnya kan mereka juga merasa diinjak,,kalau tidak merasa ya berarti wis adil, ngoten mawon,,hehehehe

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s