Gathutkaca

“Sejak lahir aku sudah membuat keajaiban. Pusarku tidak mampu dipotong oleh pisau, belati, bahkan Cakra Baskara milik Prabu Kresna tak mampu menggoresnya.” Remaja itu terdiam sejenak sambil membuang pandangannya jauh ke depan. Tak terasa air matanya menetes hinggap di batang hidungnya yang mancung, dan ketika air mata itu melewati bibirnya diapun melanjutkan ceritanya;

“Sebenarnya apa yang diharapkan Dewata dibalik kelahiranku yang tidak normal? Memang aku pahlawan bagi para Dewa, ketika aku masih bayi digodhog di Kawah Candradimika hingga tubuhku menjadi besar, dengan kesaktian yang tak tertandingi. Tapi untuk apa?” Air matanya semakin banyak menetes, jiwanya seperti terkoyak, remaja itu sudah tidak mampu lagi memandang gadis jelita yang berdiri di sampingnya. Dia hanya tertunduk sambil tersengal nafasnya, gadis itu mengulurkan tanganya memberi selembar kain tisue, sembari berbisik;

“Mas..”. sela gadis itu

“Aku lahir jadi pahlawan di Kahyangan, kecil sudah diberi beban orang dewasa, kembali ke dunia aku sudah diberi tugas untuk memerintah kerajaan dalam usia dini, sedikit pelajaran yang bisa kudapatkan dari orang tuaku, bahkan bisa dibilang aku tidak pernah merasakan ajaran kasih sayang, ajaran sopan santun, ajaran moralitas dari orang tua dan lingkunganku. Apakah mereka pikir aku paham, gara-gara badanku yang besar, mereka lupa aku ini masih bayi, seharusnya masih meminum asi, makanpun seharusnya masih disuapin, dibuatkan geretan untuk belajar berjalan, bukannya memimpin kerajaan.” Sebentar remaja itu menghela nafas panjang.

“Toh semuanya juga mampu kamu jalankan dengan baik.”

“Siapa bilang? Jangan asal ngomong kalau tidak bisa melihat kenyataan.”

“Lho, kenyataan Pringgandani juga aman terkendali.”

“AMAN??” Gertak remaja itu, seraya berpaling ke gadis itu, matanya melotot, wayahnya memerah, laksana gunung berapi yang hendak meletus. Terang saja gadis itu tertunduk dan takut, diam seribu bahasa.

“Semua orang bicara tentang Pringgandani, semua orang sudah mengetahuinya kelemahan Pringgandani, Paman-pamanku memboikot dan meminta singgasana Pringgandani, satu tahta diinginkan banyak orang, diperebutkan dengan tanpa memandang rasa kemanusiaan, aku siapa mereka siapa, masih satu darah Pringgandani harus berperang, demi kekuasaan yang secuil, kamu sebut itu terkendali?”

“Maafkan saya Mas.”

“Semua orang tahu akulah penguasa angkuh, kamu tahu seandainya aku paham tentang moralitas, pasti pertengkaran, pertempuran dengan darah daging sendiri tak akan terjadi. Kamu tahu betapa bodohnya aku yang sombong memimpin Pringgandani tanpa pengetahuan berpolitik sedikitpun, kamu tahu semua orang yang ada di samping-sampingku, penasehatku dan semua yang ada disekitar ternyata bajingan yang selalu membisikkan kata indahnya ke telingaku. Oh iya, andakata aku paham politik, aku tak akan jadi raja Pregiwa.”

“Bukankah lebih baik dikembalikan saja tahta itu jika Kakang Gathutkaca merasa tidak mampu.”

“Nasi telah jadi bubur, selalu terlambat aku dalam memaknai segala yang ada disekitarku. Seperti sekarang juga, saat aku merasakan gejolak jiwa, saat di hasratku tumbuh rasa keinginan, dan aku berniat memburunya. Aku pikir sekarang aku sedang jatuh cinta padamu, tapi aku takut, aku takut salah jalan. Aku belum bisa memahami cinta, aku belum tahu arti cinta.”

“Soal itu jangan bersedih, masih ada aku di sini.”

“Kamu ada bukan untuk aku, kamu ada hanya merusak hatiku.”

“Maafkan.”

“Pregiwa, kamu tahu tidak apa itu arti cinta, apa itu arti ketulusan, apa itu arti pengharapan? Tolong kamu katakan padaku, tolong artikan kata cinta, tolong.”

“Mas, kalau kamu memang sayang aku itu merupakan salah satu tanda ciin…..”

“Cukup Pregiwa, aku paham sekarang, aku paham kenapa aku harus dilahirkan, aku paham kenapa aku harus cepat tumbuh besar, aku paham kenapa aku harus … hah hiaaattttttttttt….

“Mas Gathut.”

Cepat kilat remaja itu terbang ke angkasa, dalam sekejap sudah hilang dari penglihatan. Pregiwa hanya bisa memandang dengan matanya yang penuh dengan air mata… tiba-tiba, terlihat dari angkasa sebuah benda yang turun begitu cepatnya seperti roket, benda itu mengarah tepat di dekat Pregiwa, dan ….

****DHUUUUAAAAAARRRRRR daaarrrrrr daaarrrrrrr***

Tanah sekitar Pregita ambles kebawah selebar kamar kecil ukuran 4 x 4 meter karena terbentur oleh benda dari angkasa tersebut. Pregiwa mendekati lubang tersebut yang mengeluarkan asap karena benturan, bahkan daun-daun yang kering di sekitar lubang itu ikut terbakar…

Tatkala mau melongok ke mulut lubang,,,tiba-tiba benda tadi kembali naik, dan hampir saja menerjangnya, meskipun demikian Pregiwa terpental satu meter karena gerakan angin yang dibawa benda tadi yang ternyata Gathutkaca yang masih labil dalam menghadapi masalah. Kedewasaannya yang instan, dipacu, dibudidayakan, diusahakan, tetapi sayang tanpa mempertimbangkan sisi kejiwaan, sisi kerohanian, moralitas. Gathutkaca adalah sebuah contoh manusia robot sejati yang perannya dimainkan oleh orang lain, kekuatanya digunakan oleh orang lain, dia hanya bisa sendika dhawuh, tak bisa lebih, tak bisa menolak, hanya pasrah dan menerima. Sebaiknya sebelum jauh melangkah kita koreksi terhadap segala sistem yang ada di negeri ini, dalam segala sektor, saya pikir dalam pemahaman dan pelaksanaanya masih dalam koridor instan, selebihnya saya kurang paham. Kasihan kamu GATHUTKACA.

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s