Earth Hour

Ferdylaciouz

Teringat waktu kecil dulu, ketika itu di desaku yang jauh dari keramaian kota Solo dan listrik belum masuk ke sana (mungkin sampai sekarang pengguna listrik yang paling ngirit he he he). Meski jauh dari peradaban kota, dan masih erat dengan dimensi desa yang mengandalkan gotong royong dan tolong menolong. transportasi masih sulit menjangkau, alternatifnya ya naik ojek atau jalan kaki.

Waktu itu tepat pada hitungan bulan purnama di musim kemarau, dimana bulan kelihatan cantiknya dan menawan. Seperti biasa, saya dan teman-teman berkumpul di halaman kakek saya, kebetulan saja waktu itu halaman kakek begitu luas dan biasa kami gunakan untuk kumpul-kumpul.

HOM PIMPAH ALAIHUM GAMBRENG

Kami bersepuluh segera menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah dengan cara HOM PIMPAH… akhirnya temanku Surip yang kalah dan terpaksa tunggu brok (tiang yang di harus di jaga). Sedangkan 8 teman dan aku sendiri berlari mencari persembunyian. Permainan ini sering kami mainkan tiap bulan purnama di musim kemarau, jadi seperti perayaan anak-anak desa. Karena purnama maka tidak ada rasa takut pada kami untuk bersembunyi dimanapun, meskipun waktu itu tumbuh-tumbuhan masih banyak, dan di tiap kebun pasti memiliki lebih dari serumpun bambu, tempat yang asyik untuk bersembunyi. Kami berlari tanpa alas kaki, karena kaki kami sudah terbiasa tanpa alas, justru ketika pakai alas eman-eman kalau dibawa lari-lari, makanya dilepas.

Tak ada listrik kami senang karena ada rembulan, meskipun tidak tiap hari purnama menghampiri dan tak semua purnama kami bersama, disaat musim hujan datang, biasanya purnama menghilang. Berbeda situasi dengan sekarang ketika aku tinggal di kota, semua tempat terang, di kamar, di jalan, di tempat nongkrong, angkringan, mall, pasar, kotamadya semua terang benderang, tak ada bedanya dengan siang. Keramaian juga tiap saat, tidak memandang waktu, pagi, siang, malam, hingga tak ada tempat untuk merenung dan menangkap sepi. Kebisingan dan gemerlap kota kini di batasi dan diminta satu jam untuk berhenti tidak menggunakan listrik, apa yang dibilang banyak orang? Ternyata mereka takut kegelapan, gelap karena semua alat rumah tangga dari kulkas, dapur, tv, internet, handphone, semua menggunakan jasa listrik. Listrik menjadi primer untuk manusia. Listrik kamu mengumpulkan mencuatkan memoriku yang sempat terselip di sela kebisingan kota, terima kasih sahabatku, desaku, semoga kamu tidak terkejut jika suatu saat nanti listrik sudah tidak ada lagi.

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s