Antaboga Menangis

Owah Gingsir

Tulisan ini pernah saya tulis di Kompasiana, dan saya tulis ulang di sini supaya menjadi banyak koleksi cerita di blog saya ini. Cerita ini masih berhubungan dengan cerita dunia wayang, terutama gaya Parahiyangan. Cerita ini berkisar adalah cerita yang merupakan legenda dari para petani kalau di Jawa Tengah umumnya dikenal dengan cerita Dewi Sri. Di sini saya kaitkan dengan para-para wakil rakyat yang katanya membawa amanat rakyat, yaitu DPR tentang keinginannya untuk membangun sebuah gedung baru sebagai kantornya.

Pada suatu ketika Batara Guru bermaksud membangun sebuah gedung baru, segera dia mandatkan kepada seluruh isi langit dan bumi untuk segera melaksanakan tugas tersebut. Bagi yang tidak mau bekerja, sebagai hukumannya akan dipotong tangannya. Berita segera tersebar luas karena mediasi saat itu aji pamelingan ya dan bukan internet ataupun handphone. Mendengar berita tersebut Dewa ular Hyang Antaboga yang menguasai bawah tanah bingung. Kenapa tidak dia kan ular tidak mempunyai tangan dan kaki, sehingga tidak bisa bekerja layaknya dewa lain. Mau menghindar dari tugas takut disebut malas, dan takut dihukum. Sepantasnya dia gusar setengah mati dan ribut sendiri, soalnya kalau dihukum hanya lehernyalah yang bisa diserahkan, artinya kematian bagi dirinya. Segera dia menemui Batara Narada untuk curhat tentang masalah tersebut, tetapi sayang Narada juga tidak mampu memberikan solusi, dia hanya bisa cengar-cengir. Akhirnya Batara Antaboga hanya bisa nangis gulung koming.

Ketika menangis titisan air matanya berubah menjadi telur yang bersinar seperti permata, ada 3 telur permata sekarang di depanya. Dan atas saran Narada supaya telur itu diberikan kepada Batara Guru, sebagai sumbah sih Antaboga. Segera saja dia menelan telur itu dan bergegas menemui Batara Guru. Meskipun dalam perjalanan dihadang oleh seeokor burung raksasa yang mengakibatkan ketiga telurnya pecah dan menjelma menjadi manusia. Yang paling cantik diberi nama Dewi Sri yang nantinya akan diperistri oleh Bathara Guru, tetapi Dewi Sri pilih hidup berlabuh pada rakyat kecil. Hingga dirinya ketika meninggal kuburunya tumbuh bersemi sebuah tanaman yang sampai sekarang dikenal dengan tanaman padi.

Sepenggal cerita itu ada di dunia pewayangan (Dewi Sri). Ketika mengingat cerita ini saya jadi ingat situasi sekarang. Analogikan saja Hyang Guru dengan anggota DPR yang ngotot ingin bangun gedung baru, Antaboga rakyatnya yang ingin menolak pembangunan gedung tersebut, dan Narada adalah pejabat tinggi lainnya yang tidak mampu membendung keinginan Guru, atau hanya suka obral obrol saja. Sudah sewajarnya rakyat nangis, bingung dan resah, cemoohan terhadap sistem negara ini datang dari berbagai kalangan, bahkan sampai Antaboga yang sembunyi jauh di dalam tanahpun sampai menangis. Seharusnyalah sebagai Guru, notabene sebagai penguasa TRILOKA (tiga dunia) tidak asal saja itu membuat aturan, mikirkan yang lain dong. Kan masih banyak itu kebutuhan lainnya yang harus di dahulukan.

Rakyat nangis nganti mringis-mringis, arep mangan rekasa, golek gawean angel, ijasah ora kanggo, tanduran ora royo-royo, akeh hama lan penyakit, mangsa wis owah, lha kok sempat-sempate pengin mbangun. Sebagai elemen yang katanya mewakili aspirasi rakyat kan sudah sepantasnya memikirkan kesejahteraan rakyat, bukan asal buat bangunan baru. Memang butuh bangunan baru tetapi tidak mendesak kan? Toh ada yang lebih penting lagi dilaksanakan daripada sekedar membangun. Akhirnya terjadi pro dan kontra juga tentang pembangunan itu, yang usut punya usut ternyata juga sebagai sarana untuk menguras APBN. Dengan berbagai dalih diungkapkan untuk membela kepentinganya, rakyat tidak akan diam kok, dia lebih menyayangi pemimpin yang bijaksana, daripada menjadi wakil rakyat tetapi menyengsarakan rakyat terus menerus. Ya jangan salahkan suatu saat rakyat itu meronta membela haknya yang paling asasi. Apa itu? Kebutuhan rumah, kebutuhan pekerjaan dan kebutuhan situasi yang tenang dan damai, sehingga sirkulasi kehidupan dari bawah keatas dan berbagai segi kehidupan bisa lancar, akhirnya tatanan kenegaraan bisa terwujud.

Ketika rakyat menangis, dan semua usaha tidak memungkinkan untuk menghambat niatan Guru, jangan salahkan jika alam nantinya yang akan bicara. Bentuk telur itu adalah simbol yang nantinya akan menyuburkan bumi lagi, karena telur itu adalah Dewi Sri, dewi padi, dewi sandang pangan. Dia yang memiliki akses kemakmuran dan kehancuran, pelindung sekaligus menghidupi. Tidak mungkin hama-hama yang sekarang merajalela, seperti ulat bulu itu ada dengan sendirinya atau kebetulan saja. Ekosistem alam sudah hancur, berbagai sirkulasi kesatuan alam sudah dirusak. Kenapa masih bersikukuh untuk tetap mendapatkan kemegahan? Untuk apa manfaat kemegahan, jika alamnya sudah tidak bisa bersahabat. Seharusnya sadar, dan kembali lagi intropeksi diri, kembali ke alam, ingat kita tidak bisa hidup tanpa alam. Kegerahan surya sudah melanda dimana-mana, tiap hari saya membaca status di FB tentang terik dan panasnya matahari. Ayo sadar, ayo sadar, alam kita bangun lagi, ekosistem kita hidupkan lagi. Hutan-hutan kita tanami lagi, jangan asal tebang, jangan asal babat. Resikonya kita pikirkan, kerugiannya bagi alam kita pikirkan. Kalau sudah tidak ada rasa sayang sesama, sudilah kiranya berkenan merasa sayang pada alam, toh kita semua hidup di tengah alam.

Keberadaan ulat bulu mungkin sangat menarik perhatian kalian, kenapa ulat bulu tidak mau menjadi kupu-kupu, kenapa mereka hanya hidup menebarkan bulu yang membuat gatal di tubuh kita? Dan mereka tidak mau menampakkan keindahannya menjadi seekor kupu-kupu. Itu sebuah simbol, sebuah signal dari alam, bahwa mereka butuh kita perhatikan, mereka sudah bosan dengan kesombongan kita. Mereka ingin sekali diakui eksistensinya, dan kita diharapkan untuk tidak menafikanya dalam hal apapun. Silahkan dilanjut pembangunan gedung tersebut, dan alam akan tersenyum, jangan heran kalau aneka bencana alam akan menimpa bangsa ini. Beja-bejane wong lali isih beja wong eling lawan waspada.

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s