Dalang & Kreatifitas

Saya sering mendengar orang awam berbicara pakem, tetapi ketika saya tanya tentang pengertiannya mereka tidak mampu menjelaskan. Di sini saya mencoba menjelaskan pakem tersebut dengan tulisan ini, mudah-mudahan bisa dipahami, karena memang saya ga pandai menulis, jadi secara sistemnya, tulisan ini jelek..he he he he he he.

Sebagaimana sering dibicarakan di forum-forum forma dan tidak formal di kalangan masyarakat pecinta wayang dan para dalang sendiri perihal pakem, secara gamblang (jelas) belum bisa dipahami oleh masyarkat luas. Apa yang menjadi penyebabnya ga usah diperdebatkan. Bagi saya Pakem adalah buku panduan, tetapi buku tersebut sudah berisi total pertunjukan dari patalon sampai tancep kayon (Gaya Surakarta, kalau gaya lain saya belum mengetahui secara rinci) baik ginem (dialog), janturan (deskripsi dengan ilustrasi bentuk gendhing), pocapan (deskripsi singkat tanpa ilustrasi bentuk gendhing), sulukan (nyanyian dalang, bisa berbentuk sendhon, pathetan dan ada-ada), dan iringannya. Tetapi semua itu digunakan sebagai elemen (pondasi) bagi seorang calon dalang. Dan setelah dia paham maha dia bisa menciptakan pakemnya sendiri, atau membuat alur atau cerita atau perombakan, yang jelas dalang diberi keluasaan dalam berkarya. Akan tetapi semua itu masih terbingkai dalam satu tema yaitu roh dari cerita, pesan moral cerita tidak dinafikan. Jadi “pakem” bukanlah undang-undang dan bukan pokok, tetapi “pakem” hendaklah diterjemahkan sebagai bentuk kreatifitas dalang. Lalu apakah kreatifitas dalang itu tidak ada batasannya, tentu saja ada. Batasan kebebasan itu rasa, pikiran dan bekal tiap dalang. Terjemahannya adalah, jika kita tahu akar persoalan maka kita akan mencari solusinya. Dan jika kita hanya memiliki satu instrumen (alat) pemahaman saja, maka akan kesulitan atau terbatas dalam menyelesaikan masalah (persoalan). Wal hasil, semakin kaya dalam pemahaman maka akan terasa punya kemudahan (kebebasan) untuk menyelesaikan persoalan itu, tentu saja masih berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila dan UUD 45, dan yang paling mendasar adalah ikut mencerdaskan kehidupan berbangsa. Makanya pertunjukan wayang disebut sebagai tontonan, tuntunan dan tatanan. Tontonan berarti hiburan, tuntunan adalah bisa dijadikan instrumen penimbang dalam kehidupan, tatanan hubunganya dengan kerapian hidup bernegara. Lalu bagaimana langkahnya?

Kemarin saya sudah bicarakan tentang dalang dan perannya, meskipun tulisan itu juga kurang terkonsep secara strukturnya (hampir semua tulisan saya,,,he he he he), bahwa dalang adalah problem sorver. Dengan demikian tugas dalang secara garis besar bisa dibagi dalam dua tahap yaitu pra pentas (di belakang layar) dan pentas (memainkan cerita). Di belakang layar lebih pada hasil perenungan terhadap berbagai fenomena dan problematika masyarakat, sedangkan pentas merupakan pengumuman hasil dari perenungan tersebut yang terbingkai dalam sebuah cerita yang disajikan dalam bentuk pertunjukan wayang. Masyarakat hanyalah penyerap informasi tersebut dengan cara dari telinga ke telinga, sehingga sebuah wacana baru bisa dipahami oleh masyarakat umum. Akan tetapi tidak semudah yang saya tulis, kenyataan sampai sekarang kebanyakan para dalang belum paham dengan posisinya, dan pemerintah cenderung mengkebiri kebebasan kreatifitas dalang dengan kekonyolannya, istilah pakem selalu digunakan sebagai dalih, seakan-akan “pakem” itu adalah undang-undang yang wajib ditaati, sementara undang-undang dasar negara ini sering dilecehkan (ironis gitu lho). Lepas dari sistem pemerintah yang amburadul ini, sebenarnya dalang harus mengambil sikap sebagaimana seniman lainnya (sebagai contoh Iwan Fals dan Ebit GAD), bukankah dalang itu memiliki potensi besar dengan berbagai media yang digunakannya? Sudah saatnya dalang harus belajar menyikapi problematika kehidupan yang sedang berjalan, bukan problem yang sudah usang (feodalisme). Selamat berkreasi teman-teman dalang….

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s