Wayang Kulit Purwa (Cerita)

Cerita wayang dibagi dalam 2 bagian besar, yaitu cerita baku dan cerita carangan. Cerita baku bersumber pada Mahabharata dan Ramayana. Inipun masih tergantung daerah masing-masing, yang lazim disebut dengan gaya. Gaya ini secara besar dibagi menjadi 2 bagian, gaya kraton dan gaya pasisiran. Gaya Kraton jelas perkembangannya diprakarsai oleh kraton (masih dalam penelitian, bahwa sejauh ini kraton hanyalah mengakui dan wayang diduga merupakan budaya atau tradisi rakyat jelata). Sedangkan gaya pasisiran adalah gaya yang berkembang di luar dinding kraton.

Mahabharata berisikan tentang kisah darah Barata atau berisi seputar kehidupan kenegaraan, sosial, dan budaya. Tema cerita Mahabarata lebih komplek dan lebih banyak dibandingan Ramayana yang hanya bercerita tentang cinta dan pengorbanan. Mahabarata lebih mendekati kehidupan realitas sedangkan Ramayana ini lebih pada hubungan cinta kasih dua insan yang akhirnya berlabuh pada pertikaian besar-besaran. Mahabarata bercerita tentang keberhasilan para Pandawa dan pertempuran guna mendapatkan kemerdekaannya sedangkan Ramayana bercerita tentang keberhasilan Rama dalam memperjuangkan Shinta.

Cerita wayang yang bersumber pada kedua epos terkenal tersebut, oleh para leluhur kita kemudian diolah sehingga nampak hasilnya kedua cerita terkesan bersambung atau saling terkait. Cerita baku dalam wayang ini jelas masih terlihat alur cerita dan isensi ceritanya masih mirip dengan babon aslinya. Sedangkan cerita di luar itu disebut lakon carangan. Carangan (sempalan/bagian/ranting) ini merupakan hasil manipulasi para leluhur kita yang berhasil memperkaya kedua epos tersebut dan membuat epos tersebut masih dapat kita lihat dan kita ketahui hingga sekarang.

Pedoman cerita

Pedoman cerita sering disebut sebagai pakem atau diktat. Yaitu sumber utama yang berupa tuntunan atau buku yang berisi tentang cerita wayang. Diktat ini masih dibagi lagi dalam beberapa bagian, hingga terbentuk sebuah buku panduan yang digunakan awal pertama oleh Pasinaon Dalang yang diprakarsai oleh kraton. Dalam buku panduan tersebut sudah tertulis lengkap dari persiapan seorang dalang hingga tancep kayon.

Sumber diktat yang telah beredar itu ada beberapa macam, yang paling terakhir dan sering digunakan hingga sekarang di wilayah Surakarta adalah buah tangan Ranggawarsita yang berjudul Pustaka Raja Purwa. Sedangkan di wilayah Yogyakarta mengenal buku lain yang berjudul Pustaka Raja Parwa. Secara garis besar kedua buku tersebut sama dalam segi rentetan peristiwanya atau urutan peristiwanya, yang membedakan keduanya adalah pengkharakteran tokoh dan jumlah tokohnya. Sebagai contoh paling mudah adalah Resi Durna di Pustaka Raja Purwa memiliki karakter yang baik, sedangkan di Pustaka Raja Parwa memiliki karakter jelek. Perbedaan ini memang diharapkan dan diciptakan oleh Kompeni yang berkuasa pada waktu itu sebagai alat adu domba antara kedua kekuatan.

Buku atau diktat yang digunakan di Padasuka adalah Irawan Rabi sedangkan di PDMN (Pasinaon Dalang Mangkunegaran) adalah Wahyu Pakem Makutharama. Kedua diktat tersebut termasuk dalam kategori lakon carangan, karena semuanya tidak tertulis dalam Mahabharata. Sedangkan untuk pengetahuan lebih lanjut para calon dalang diharapkan rajin membaca berbagai serat yang berhubungan erat dengan Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja sebagai acuannya atau rentetan peristiwanya dari babon buku yang saya sebut di alenia di atas.

Sanggit

Sanggit adalah hasil kerja dalang dalam menelaah atau mempelajari sebuah cerita dalam bentuk pertunjukan wayang. Kerja dalang pada dasarnya dibagi dalam dua tahap yaitu tahap pra pertunjukan dan pertunjukan itu sendiri. Tahap pra pertunjukan ini seorang dalang diharapkan mampu mengikuti perkembangan jaman, sehingga fenomena yang sedang berkembang menjadi tema yang akan di usung dalam bentuk cerita wayang. Adapun cerita wayang ini nantinya bisa berbentuk cerita baku, carangan ataupun cerita yang benar-benar baru.

Tahap sanggit ini merupakan kerja dalang yang sesungguhnya dalam mengkreasi cerita baru sesuai dengan perkembangan jaman. Tahap ini sudah saya tulis dalam artikel lainnya, mohon baca di sini. Inilah perbekalan dalang dalam wilayah cerita wayang. Perlu dicatat bahwa kerjanya sanggit itu sudah melibatkan unsur-unsur lainnya, seperti unsur musikal, unsur gerak wayang, unsur bahasa, dan unsur antawecana.

About these ads

tolong masukannya yah

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s